INILAH KELEBIHAN RELAWAN LPB DIY

0
35

YOGYA – Salah satu ciri Muhammadiyah adalah aktivitas riil, tidak hanya bicara sana-sini. Hal ini tidak pernah berhenti dilakukan sejak didirikan KH Ahmad Dahlan tahun 1912 hingga sekarang. Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PWM DIY pun membuktikan hal itu.

Setiap terjadi musibah bencana alam di wilayah DIY, LPB PWM bersama LPB daerah se DIY berusaha memberi bantuan terbaik tanpa pamrih kepada para korban. “Keberadaan kami sudah diakui dan mendapat acungan jempol pemerintah daerah (DIY),” ungkap Dr. H. Purwadi, Ketua LPB PWM DIY, di sela-sela Rakor Majelis dan Lembaga di Lingkungan PWM DIY, Ahad 28 Februari 2018.

Menurut Purwadi menyitir pendapat pejabat Pemda DIY, keunggulan relawan LPB PWM DIY adalah selalu datang di lokasi kejadian lebih cepat dibandingkan relawan dari komunitas lain. Bahkan, dibandingkan relawan yang tergabung di BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), relawan LPB datang lebih dulu dan langsung memberikan pertolongan.

“Kami juga dikenal tidak pernah minta apa-apa. Semua sudah kami sediakan sendiri, benar-benar mandiri,” jelas Purwadi. Misalnya, peralatan, kebutuhan logistik seperti makan dan minum, jumlah relawan cukup, dan jaringan relawan yang tersebar sampai pelosok.

Untuk bisa diterima sebagai relawan LPB bukannya tanpa syarat. Menurut Purwadi, ada seleksi khusus yang dilakukan untuk itu. Tanpa menyebut proses seleksinya, siapapun yang lolos dalam seleksi awal masih diharuskan mengikuti Sekolah Relawan yang diselenggarakan lembaga ini.

Untuk tahun 2018 adalah Sekolah Relawan 2 dimulai 24 Januari 2018 berlangsung selama tiga bulan setiap hari Rabu malam di Gedung PWM DIY diikuti 76 peserta dari ortom maupun masyarakat umum. Sekolah Relawan 1 dilaksanakan awak tahun 2017.

Materi yang disampaikan dalam Sekolah Relawan adalah Fiqh Kebencanaan, Sejarah Muhammadiyah dan LPB, Filantropi Gerakan Muhammadiyah, Sistem Penanggulangan Bencana, Manajemen Posko, Potensi Bencana DIY, dan simulasi penanggulangan bencana di akhir sekolah.

“Sekolah Relawan ini diadakan agar para relawan benar-benar punya kemampuan ketika terjun di daerah bencana. Jangan sampai ada relawan yang malah ngrepoti. Relawan itu tidak cukup hanya dengan ikhlas dan berani, juga harus punya ketrampilan,” paparnya.

LPB secara periodik juga mengirim para relawan untuk mengikuti pendidikan di luar daerah yang memiliki kelebihan tertentu dalam penanganan bencana alam. Misalnya di Jateng untuk penanganan bencana banjir dan Jabar untuk bencana tanah longsor.

“Kalau kelebihan Yogya adalah penanganan dari sisi psikhososial,” jelas Purwadi. (her)