GBPH H JOYOKUSUMO: “SITUASI HARMONIS DIPELIHARA KH AHMAD DAHLAN DENGAN KERATON”

0
36

Sebuah rumah dengan pendopo besar di sisi kiri kompleks Keraton Kesultanan Yogyakarta selalu ramai didatangi wisatawan. Letaknya disisi kiri bangunan utama komplek Keraton Kesultanan Yogyakarta. Di situlah Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) H Joyokusumo tinggal. Putra dari Sultan Hamengku Buwono IX dari istri kedua yang bernama KR Ayu Windyaningrum, kini tak lagi menjadi anggota DPR. Tugasnya adalah menangani “urusan dalam negeri” Keraton Yogyakarta. Dahulu,  semasa ayahandanya bertahta, Gusti Joyo bertugas sebagai ajudan Sultan Narpo Cundoko. Tugas itu mengantarnya mengerti betul seluk-beluk sejarah dan budaya Keraton Yogyakarta. Pangeran yang tak menamatkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi UGM ini mampu menjelaskan berbagai “pelajaran sejarah” tentang suksesi di Keraton.

Di suatu hari,sekitar 20-an tahun yang lalu, GBPH Joyokusumomendapat nasihat yang sangat luar biasa dariayahnya: almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX.Sebagai anak, Gusti Joyo merasa nasihat kalaitu sangatlah mendalam. Apalagi dia masih ingat,nasihat khusus itu disampaikan secara terbuka. Tepatnya ketika digelar pertemuan antara SultanHB IX dan masyarakat di kompleks Taman HiburanRakyat (THR), yang kini menjadi Purawisata. “Saat itulah saya dinasihati, jika mau terjun di masyarakat agar tidak mengharapkan imbalan.

Namun harus itu dilakukan dengan tulus ikhlas,” kenang Gusti Joyo. Nasihat dari sang ayah ini, menurutnya, sangatlah bermakna. “Beliau meminta saya untuk tidak memandang pamrih, tapi harus demi bangsa, negara dan Allah SWT semata,” ujarnya saat ditemui di Gadri Resto sekaligus tempat tinggalnya. Nasihat serta prinsip itulah, yang terus dia pegang selama menjalankan roda organisasi maupun kehidupan bermasyarakat. Meski sederhana, Gusti Joyo pun menyadari nasihat itu butuh tekad dan kerja keras untuk menjalaninya. Namun dari nasihat itulah, Gusti Joyo mengaku bersyukur kehidupannya dapat berjalan dengan penuh berkah. Hubungan harmonis KH Ahmad Dahlan dan pusat kekuasaan Jawa, seperti dituturkan GBPH Joyokusumo, Pengageng Kawedanan Ageng Panitrapuro (Kepala Sekretariat) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, cukup unik. “Hubungan harmonis KHA Dahlan sebagai abdi dalem dengan Raja serta Keraton itu, menarik dikaji,” katanya.

Ketika kerajaan dipandang pusat tradisi kejawen yang penuh mistik, di sisi lain gerakan Muhammadiyah lebih mengidentifikasi diri sebagai gerakan puritan yang antara lain gencar memberantas takhayul, bid’ah dan churaat (TBC). Kelahiran Muhammadiyah sendiri, menurut adik Sri Sultan HB X ini, berkait kebijakan Hamengku Buwono VII. Laki-laki yang akrab disapa Gusti Joyo menuturkan, kepergian KHA Dahlan untuk naik haji dan bermukim di Makkah adalah perintah langsung Sri Sultan HB VII. Raja memandang penting Raden Ngabei Ngabdul Darwis – nama kecil KHA Dahlan – belajar Islam dari asal kelahirannya.
Sepulang haji, Sri Sultan HB VII memerintahkan Dahlan bergabung dalam Boedi Oetomo. “Perluasan reformasi Islam pun mulai berlangsung dari sini,”tandas Joyokusumo. Menurut laki-laki kelahiran Yogyakarta, 27 Oktober 1955 ini, situasi harmonis dipelihara KHA Dahlan dengan Keraton dan Raja. Posisi KHA Dahlan sebagai abdi dalem Keraton, yang saat itu menjadi pusat tradisi dan ikon budaya rakyat, tidak mungkin melancarkan kritik dan memberantas tradisi secara terbuka. (berbagai sumber/fan)