YASINAN MODEL BARU

0
90

Peristiwanya terjadi di Palembang, di Ulak Paceh. Ketika Pak AR ditugaskan di sana, ada ulama yang sangat dikenal dan sangat dihormati di Desa itu. Sayang ulama itu sangat benci dengan Muhammadiyah. Pada Masa itu Muhammadiyah masih termasuk baru. Mungkin beliau itu sudah terpengaruh isu – isu buruk yang ditunjukan kepada Muhammadiyah. Karena itu setiap orang Muhammadiyah selalu disikapi secara sinis. Apa lagi Pak AR orang baru, datang dari Jawa (Yogyakarta) dan langsung ditugaskan di sekolah Muhammadiyah. Karena itu Pak AR juga selalu disikapi dengan acuh, dingin dan kadang – kadang masam. Kebetulan, kalau Pak AR mau mengajar selalu lewat di depan rumahnya. Sebagai orang muda (waktu itu masih sekitar 18 tahun) kalau ulama itu ada didepan rumahnya selalu diberi salam. Akan tetapi salam itu selalu tidak dijawab dan disikapi dengan dingin dan tak acuh. Meskipun demikian Pak AR tidak pernah bosan. Setiap ketemu selalu member salam. Lama – lama ulama mau menjawab meskipun tidak lengkap. Misalnya diberi salam “Assalamu’alaikum” beliau hanya menjawab “salam” atau “lam”. Dan Pak AR terus saja setiap ketemu selalu member salam. Akhirnya pada suatu hari ulama itu mau menjawab salam dengan lengkap “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh” disertai senym manis. Kerena dijawab lengkap Pak AR berhenti dan menjabat tangan ulama itu sambil tersenyum. Diluar dugaan pembicaraan menjadi panjang dan pada akhirnya ulama itu bertanya; “Apa Gunu ini orang Muhammadiyah” (Pak AR di Ulak Paceh biasa dipanggil guru). Jawab Pak AR; ”Ya, saya orang Muhammadiyah. Dulu belajar di Darul Ulum Muhammadiyah Yogya” “Jadi Guru ini benar – benar orang Muhammadiyah?” Tanya ulama itu sambil menatap dengan tajam. “Ya, saya orang Muhammadiyah” kata Pak AR. “Lho kok baik” kata ulama tadi. Pak AR tersenyum sambil bertanya; “Apa orang Muhammadiyah itu jelek? Kata siapa?” Jawab ulama itu : “Ya kata orang – orang, Muhammadiyah itu Wahabi, suka mengubah agama dan suka mengkafirkan orang lain” kata ulama itu. “Lah itu kan kata orang, tetapi sekarang Angku sudah melihat sendiri, saya ini orang Muhammadiyah bukan hanya kata orang – orang” kata Pak AR. “Iya – ya, kalau begitu orang – orang tidak benar” kata ulama itu. “Begitulah” kata Pak AR. “Kalau begitu, begini”; kata ulama itu lebih lanjut. “ Besok malam Jum’at, Guru saya undang untuk yasinan”. “Baik, Insya Allah”, kata Pak AR, meskipun beliau bingung juga bagaimana yasinan itu, karena Pak AR tidak pernah diajari yasinan. Selama beberpa hari menjelang malam Jum’at Pak AR berikir keras bagaimana kalau tiba – tiba diminta memimpin yasinan, padahal belum pernah ikut yasinan dan tidak tahu bagaimana yasinan itu. Pada malam Jum’at yang dijanjikan berangkatlah Pak AR menghadiri undangan ulama itu. Dan benar juga dugaan beliau, bahwa belaiu akan diminta tampil dalam yasinan itu. Maka ketika kesempatan diberikan pada Pak AR, Pak AR bertanya apakah hadirin sudah sering ikut yasinan? Dijawab oleh mereka serempak : “Sudah guru”. “Selama ini yasinan seperti apa?” Tanya Pak AR. “Ya seperti biasa” jawab mereka. “ jadi bapak – bapak sudah bisa semua, sudah hafal semua?” Tanya Pak AR lagi. “ Ya, sudah hafal” jawab mereka bersama – sama. “ Bagaimana kalau sekarang kita yasinan model baru, supaya Bapak – Bapak punya pengetahuan lebih luas dan punya pengalaman lain? Setuju?” Tanya Pak AR. “Setuju” jawab mereka serempak. Kemudian kata Pak AR; “Sekarang kit abaca Surat Yasin satu ayat demi satu ayat”. Lalu dibaca ayat pertama, kemudian diminta salah seorang untuk mengartikannya. Kalau tidak bisa Pak AR membantu. Setelah selesai diartikan, kemudian oleh Pak AR dijelaskan apa itu Surat Yasin yang sering dibaca itu, kemudian arti dan maksud ayat – ayat itu. Meskipun malam itu hanya memperoleh dua tiga ayat rupanya hadirin cukup puas. Bahkan ada permintaan dapat dilanjutkan pada yasinan yang akan datang. Kata Pak AR, “Kalau saya, sebagai orang muda, saya terserah saja pada hadirin sekalian. Tetapi yang paling penting tergantung pada Al Mukarom Angku Ulama, orang tua kita itu”. Diluar dugaan ulama itu menyetujui. Meskipun demikian Pak AR tidak serta merta meminta mengisi setiap malam Jum’at, tetapi supaya berselang – seling. Malam Jum’at, malam gasal yasinan model lama yang mipimpin Angku Ulama dan pada malam Jum’at malam genap yasinan model baru dan yang ngisi Pak AR. Lama – lama Angku Ulum itu menyerahkan pimpinan yasinan itu kepada Pak AR dan jadilah yasinan itu pengajian tafsir Al Qur’an. Begitulah, rupanya dulu Pak AR juga sudah melaksanakan dakwah cultural.

(Sumber: Anekdot dan Kenangan Lepas tentang Pak AR, karya Drs. H. M. Sukriyanto AR, M. Hum.)