ADA SYIRIK POLITIK DALAM SUKSESI KEPEMIMPINAN

0
9

Oleh : Imam Mahdi, S.IP, M.A.

Menjelang pesta demokrasi tahun depan, hampir semua calon pemimpin berupaya agar popularitasnya naik. Segala macam cara dihalalkan agar terkesan bersahabat, bersahaja, berwibawa dan membela kaum mustad’afin. Mulai dengan membuat jargon yang pro rakyat, pembagian makanan, pengobatan gratis atau bahkan dengan turun tangan langsung membantu masyarakat grass root. Tidak dengan jalan itu saja, safari politik pun dilakukan dengan keliling daerah, kalau perlu mengunjungi seluruh pulau di negeri ini. Bahkan ada yang tidak malu untuk mengklaim dirinya sebagai pembela kaum miskin, meskipun secara nyata, berdasarkan fakta dia telah tindakan yang mendeskreditkan rakyat. Atau mereka yang mencaplok nama-nama tokoh tertentu sebagai reingkarnasi-nya.

Memang dalam politik hal tersebut sah-sah saja, tidak ada yang perlu diperdebatkan. Politik ala Machiavelli memang menghalalkan hal tersebut. Atau jika kita menggunakan pendekatan Thomas Hobbes, maka homo homini lupus dapat kita jadikan sebagai rujukan. Bahwa kandidat, calon pempimpin yang lain merupakan serigala yang harus dimatikan, kontestasi yang berakhir dengan konflik. Hanya saja jika kita tilik lebih jauh, tidak ada gunanya jika kepedulian tersebut tanpa didasari oleh niat yang tulus, ikhlas. Tidak ada manfaatnya juga kita menggunakan pendekatan kaum realis dalam menciptakan tatanan politik di negeri ini. Tidak ada faedah cara tersebut jika hanya menampilkan sisi kepedulian yang bersifat formalitas hedonistik.

Maka jangan heran, cara yang dilakukan oleh calon pemimpin bangsa ini dianggap sebagai sesuatu yang kurang tepat. Dalam bahasa agama, orang yang mengharapkan pujian dari setiap kegiatan yang dilakukan termasuk dalam katagori syirik khofi. Syirik yang tersembunyi, yaitu beribadah dengan tujuan mendapatkan pujian, dan terkesan menjadi orang baik.

Sedangkan calon pemimpin yang menyeru masyakat untuk memilih dirinya tanpa didasari oleh kematangan dalam memimpim, dari sisi politik, kondisi ini secara tidak sadar bisa mengajak orang untuk masuk dalam lingkaran Syirik Politik. Mengajak orang secara tidak langsung untuk mendewakan calon pemimpin. Bahkan dengan berpangku tangan pada orang tersebut. Kemudian berfikir, bahwa perubahan hanya dan akan terjadi jika sosok tertentu yang jadi, jika bukan dia berarti akan terjadi kehancuran.

Syirik politik dapat berdampak sistemik dalam proses pemilihan. Kandidat calon tidak hanya akan memanipulasi suara, tapi juga melakukan pembodohan teroganisir. Padahal agama telah menganjurkan kita untuk selektif memilih para pemimpin. Jika suatu urusan diberikan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran. Kapasitas dan kapabilitas seorang pemimpin sudah harus teruji. Kecakapanya dalam memimpin menjadi perlu dijadikan tolak ukur. Sebab pemimpin yang hanya menampilkan sisi baiknya sewaktu mencalonkan diri, berarti dia hanya mempunyai rasa memiliki (sense belonging) hanya sewaktu mencalonkan diri, dan besar kemungkinan setelah terpilih hal tersebut tidak akan terjadi lagi.

Dampak buruk jika terjadi syirik politik adalah hancurnya tatanan kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak kritis, tidak berfikir konstruktif dalam membangun peradaban di tempatnya masing-masing. Masyarakat semakin malas untuk mengkritik para pemimpinya.  Sebab calon pemimpin sedari awal telah berhasil membuat konstituenya untuk taqlik buta dalam berpolitik. Dengan mengedepankan materi sebagai jalan terbaik mendulang suara. Kalau sudah seperti ini tidak ada gunananya lagi syahadah yang telah diikrarkan, baik bagi konstituen maupun kandidat.

Dalam bahasa yang sederhana, Amin Rais melalui buku tauhid sosial mengkritik para pemimpin yang tidak memiliki tauhid sosial yang murni. Para calon pemimpin yang telah bersyahadat seharusnya menerapkan empat hal mendasar dalam hidupnya. Pertama, mengatakan tidak pada kebatilan. Bisa diartikan mengatakan tidak pada korupsi, menyeru untuk tidak melakukan status quo pada saat suksesi kepemimpinan. Mampu bertahan ditengah kuatnya arus intervensi, baik dari internal maupun eksternal.

Kedua, meniadakan selain Allah, hanya Allah lah sebagai  tujuanya. Calon pemimpin sudah selayaknya tidak terpaku pada kekuatan “orang pintar”. Seperti yang diberitakan beberapa waktu lalu, dalam investigasi yang dilakukan sebuah media masa ditemukan bahwa tidak hanya jalan yang logis, tapi juga hal yang absurd juga dilakukan untuk memuluskan jalan menuju istana. Ketiga, dia harus mendeklarasikan dirinya dituntun oleh Al-Quran. Tidak mensakralkan tokoh tertentu untuk dijadikan rujukan dalam memilih. Maka kurang tepat kiranya, jika tokoh agama mengajak untuk memilih calon tertentu, tanpa adanya chek-rechek terhadap kandidat tersebut. Seperti menguatnya politik santri pasca runtuhnya orde baru.

Keempat, yang tidak kalah pentingnya aplikasi dari tauhid itu sendiri. Jangan-jangan kita terjebak dalam romantisme ibadah saja. Tanpa memberikan penekanan terhadap kehidupan sosial di dunia ini. Kita mengedepankan mahabbah kita pada sang Ilahi, tanpa disadari merupakan peran kita untuk menolong sesama. Termasuk menolong saudara kita yang tidak memiliki analisis terhadap politik.

Kita sangat khawatir terhadap pemimpin yang tidak memiliki moral transcendental yang kokoh, mereka yang menyebar syirik politik. Sebab, pemimpin seperti ini bisa terombang ambing oleh kepentingan tertentu, kepentingan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Sehingga wajar kiranya dari empat kriteria yang telah disampaikan Amin Rais dapat dijadikan alat untuk membedah, apakah kita terjebak dalam syirik politik? Atau disisi lain, sudahkah kita memilik ketauhidan sosial sebagai calon pemimpin?.

Meskipun ada kontradiksi antara syirik politik dan tauhid sosial, bukan berarti kita harus apatis terhadap politik. Tidak seharusnya juga kita menjadikan dalil yang telah disebutkan oleh Abduh sebagai rujukan utama. Dia pernah berucap “Audzubillahi min al-siyasah wa al-siyasiyyin” (saya berlindung kepada Allah dari politik dan kaum politisi). Meskipun saat ini kondisinya tidak jauh berbeda dengan dengan masa-masa Abduh. Kita harus menyadari bahwa suksesi kepemimpin merupakan keniscayaan, ditengah banyaknya negara yang menerapkan status quo. Seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah, dengan menjadikan agenda suksesi kepemimpinan bukan sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan, akan tetapi sebagai sebuah pengabdian untuk mendapatkan keridhoan Ilahi.

Dari sinilah kita perlu menguatkan lagi tauhid politik. Tauhid yang didasarkan pada sifat kritis terhadap kondisi sosial. Tauhid yang mengajarkan kita untuk tidak sepenuhnya sami’na wa atho’na pada pemimpin. Kita seharusnya tidak mendewa-dewakan para calon pemimpin. Apalagi dengan menjadikanya satu-satunya orang nomor satu, jika bukan calon ini berarti bangsa ini akan hancur. Dan rumusan al-amr bi ‘l-ma’ruf wa ‘l-nahyu ‘ani l-munkar, masih sangat relevan untuk diterapkan. Membaca track record-nya selama ini, apakah sudah berjuang dengan rakyat? Sudah memiliki ketauhidan social? Sudah konsisten dalam menjalankan misi amar makruh wal mungkar?. Setelah itu dilakukan maka kita akan terjauhi dari syirik politik.