SUPRAPTO IBNU JURAEMI : “TEGUH PENDIRIAN DAN SELALU KRITIS”

0
27

Sosok berikut ini adalah seorang guru sekaligus kyai bagi seluruh warga Muhammadiyah khususnya dan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. Keikhlasan serta keteguhan hati dalam berdakwah menyebarkan ajaran Islam beliau lakukan hingga ajal menjemput. Beliau adalah H. Suprapto Ibnu Juraemi atau banyak orang sering memanggil beliau dengan sebutan ust. Prapto atau ust. Jurem atau hanya sekedar memanggil beliau dengan panggilan pak kyai agar terkesan lebih akrab. Ust. Prapto lahir di Jogjakarta pada tanggal 3 Juli 1943. Suami dari seorang istri yang bernama Hj. Khusnul Khatimah dan juga ayah dari 7 orang anak merupakan salah satu alumni dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta yang kemudian melanjutkan studinya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ust. Prapto ini adalah seorang demonstran yang teguh pendirian dan selalu kritis bahkan cenderung menentang terhadap hal-hal yang menurut beliau tidak benar. Karena keberanian beliaulah, pada tahun 1962 ust. Prapto “ditendang” (demikian beliau sering menyebut peristiwa itu) atau diskors selama 5 tahun dari IAIN tersebut. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau dalam belajar karena dengan adanya skorsing ini beliau dapat melanjutkan studinya ke Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sekaligus mengaji kepada salah satu Ulama besar Muhammadiyah yang merupakan murid langsung dari K.H. Ahmad Dahlan, yakni K.R.H. Hadjid.

Dibalik kekritisan dan keteguhan beliau dalam berdemonstrasi, beliau juga seorang ustadz, pengajar, sekaligus pendidik yang mendidik. Beliau pernah menjadi menjadi salah satu pendidik di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta dan  pada tahun 1980 ust. Prapto diangkat menjadi Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah hingga akhir periodenya pada tahun 1986. Setelah itu, beliau tetap menjadi salah seorang pendidik            di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta walau sudah tidak menjabat lagi sebagai direktur. Selain mengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, beliau juga menjadi pendidik di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).

Ust. Prapto merupakan guru sekaligus pendidik yang memiliki cara mengajar yang sedikit unik dan berbeda dari guru-guru pada umumnya. Beliau lebih suka untuk mengajar di masjid daripada didalam ruangan kelas formal. Sistem mengajar beliau seperti sistem mengajar yang ada di pondok-pondok konvensional, yakni beliau duduk di atas kursi dan murid-murid duduk secara lesehan. Yang lebih unik lagi dari sistem mengajar beliau adalah ketika ditengah-tengah proses kegiatan belajar, beliau selalu mengutus salah seorang murid beliau untuk membuatkan segelas teh tawar panas dan kadang-kadang kalau beliau lapar juga ditambah dengan mie rebus pakai telur. Hal yang lain lagi adalah apabila terdapat salah seorang murid beliau ramai atau tertidur saat kegiatan belajar, beliau memanggil siswa tersebut untuk maju ke depan kemudian beliau berkata “Mas tolong pijat pundak saya”. Di balik keunikan dan kekhasan beliau mengajar, beliau adalah guru yang disiplin dan konsekuen terhadap apa-apa yang telah beliau sampaikan kepada murid-muridnya.

Selain seorang demonstran dan guru yang istiqamah beliau juga seorang da’i, ulama, sekaligus muballigh yang konsisten dan teguh hati dalam berda’wah. Seluruh Indonesia ini mungkin sudah pernah beliau jajaki dan jelajahi selama beliau berda’wah terutama ketika beliau duduk di Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Capek dan lelah mungkin terselib dan menghinggapi raga beliau, tetapi karena semangat da’wah beliau yang luar biasa rasa lelah dan capek sedikit beliau abaikan hingga kesehatanpun kadang juga beliau abaikan.

Banyak orang seringkali menyebut beliau sebagai “Bapak Pembangunan”. Hal tersebut terkait dengan salah satu kegiatan beliau yang menurut banyak orang pula merupakan kegiatan yang sangat luar biasa, yakni Shalat Lail. Beliau selalu menjaga teguh kegiatan ini, kegiatan yang bisa dikatakan wajib dilakukan setiap harinya. Ciri beliau ketika melakukan shalat lail ini adalah shalat lail ini beliau kerjakan dalam tempo yang panjang. Setiap gerakan dalam shalat lail selalu beliau hayati dan resapi setiap maknanya. Bahkan ketika beliau melakukan gerakan tahiyat awal membutuhkan waktu yang sangat lama sekali, begitu pula pada tahiyat akhirnya. Ciri lain dari seorang ust. Prapto ketika membaca ayat suci Al-Qur’an baik dalam shalat ataupun dalam keseharian adalah tidak memakai lagu, ada yang menyebutnya “Lagunya tidak berlagu”. Sehinga lebih terkesan sedang membaca hadits atau kalimat arab daripada membaca ayat suci Al-Qur’an.

Begitulah kekhasan ust. Prapto yang bisa dibilang sangat luar biasa karena pada saat ini sudah sangat sedikit orang yang bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut terutama dalam hal Shalat Lail dalam waktu yang lama. Semangat dan kegigihan beliau dalam berdakwah seringkali membuat lupa akan kesehatan beliau sendiri. Akhirnya beberapa tahun sebelum beliau wafat, beliau menderita penyakit diabetes mellitus yang bisa dikatakan sudah parah. Karena penyakit tersebut menyebabkan ust. Prapto harus cuci darah dan semakin berkurangnya penghilatan beliau. Walaupun hal tersebut harus membuat ust. Prapto bolak-balik ke rumah sakit bahkan kadang harus mengobati sendiri ketika dalam perjalanan tak sedikitpun berkurang semangat dan motivasi beliau untuk terus tetap berdakwah.

Hal ini bisa terlihat pada semangat beliau untuk melakukan kegiatan rihlah                        ke Purworejo. Beliau yang sedang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, meminta ambulans kepada pihak rumah sakit untuk minta diantar ke Purworejo demi menghadiri dan mengisi acara Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Purworejo karena pada saat itu beliau adalah salah satu narasumbernya. Akhirnya berangkatlah ust. Prapto ini ke Purworejo dengan ambulans milik RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Setibanya di Purworejo, banyak peserta yang terkejut bahkan beberapa diantaranya sampai meneteskan air mata atas kehadiran beliau yang pada waktu itu sudah dalam kondisi yang seharusnya tidak memungkinkan untuk hadir.

Begitulah sepak terjang perjuangan seorang guru, kyai, pejuang, dan ulama yang senantiasa istiqamah dan teguh hati dalam berdakwah. Ust. Suprapto Ibnu Juraemi wafat pada tanggal 20 April 2009 setelah beberapa tahun terakhir kondisinya mulai menurun dengan kondisi gagal ginjal yang menyebabkan beliau harus cuci darah (hemodialisa) hingga cuci perut (peritoneal dialisa). Tetapi sekali lagi kondisi tersebut tetap tidak menyurutkan sedikitpun semangat beliau dalam berdakwah. Selamat jalan guru sekaligus ulama besar yang dimiliki oleh Muhamadiyah.