CATATAN PENTING DALAM SEMINAR KEBANGSAAN MILAD IMM KE- 54

0
153

YOGYAKARTA — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dalam Semarak Milad IMM ke-54 menggelar seminar kebangsaan bertema “Membangun Moralitas Bangsa untuk Memberantas Korupsi melalui Penguatan Empat Pilar” yang berlangsung pada 21 Maret 2018 di Aula Islamic Center UAD. Seminar ini menyedot minat mahasiswa umum bukan saja mahasiswa UAD, tetapi juga mahasiswa dari berbagai universitas dan juga beberapa dosen di Yogyakarta.

Seminar Kebangsaan ini menghadirkan pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya: Arif Noor Hartanto, S.I.P selaku wakil ketua DPRD DIY, Muhammad Yuanda Zara, M.A.,Ph D selaku sejarawan Indonesia jebolan Unversiteit Amsterdam dan Hasrul Halili dari PUKAT UGM memberikan materi terkait korupsi yang sangat mendetail.

“Seminar kebangsaan ini adalah acara yang sangat menarik dan antusias peserta seminar ini begitu luar biasa, terlihat dari banyaknya peserta yang hadir, terutama bagi kalangan mahasiswa, pertama karena isunya itu terkait korupsi yang sedang hangat di Indonesia sekarang. Dengan diadakan acara ini bisa meningkatkan kewaspadaan juga pengetahuan soal korupsi dan pemberantasannya di Indonesia, karena selama ini yang kita tahu kebanyakan tema-tema tentang korupsi banyak dibahas di media social, media massa, baik di koran, televisi, dan sebagainya, dan sekarang di ruang-ruang kampus juga dibicarakan sehingga kemudian  kesadaran tentang pencegahan korupsi itu ada dari level yang sudah sangat awal, yaitu dari mahasiswa, karena mahasiswa kemudian akan menjadi para pemimpin di masa depan, jadi mereka harus tahu seluk beluk dari korupsi itu dan kemudian di masa depan dapat mencegahnya.” Papar Muhammad Yuanda Zara selaku sejarawan Indonesia jebolan Universiteit Amsterdam.

Lebih lanjut ia menyampaikan,”Kita tahu bahwa IMM ini sudah berdiri puluhan tahun sejak tahun 60 an, dan itu artinya usia IMM sudah sangat lama, mengiringi Indonesia sudah sangat lama pula dan selama bertahun-tahun itu IMM sudah sangat berperan di Indonesia. Sekarang juga, IMM masih menunjukkan eksistensinya dengan acara semacam ini dan artinya IMM masih mempunyai keinginan untuk memberikan kontribusi pada problematika di Indonesia. Untuk kedepannya ritme dan semangat ini harus dipertahankan karena kalau tidak dipertahankan maka mahasiswa UAD atau khususnya IMM tidak akan punya ikatan dengan persoalan yang ada di Indonesia. Sehingga , teruslah di masa depan setiap ada problematika Indonesia itu diulas dengan berbagai macam cara, baik melalui seminar,diskusi atau lewat berbagai macam media: media social, media audio visual atau media lainnya. Sehingga kemudian mahasiswa UAD atau IMM dapat memberikan kontribusi dan pemikiran mereka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di Indonesia, karena kalau tidak begitu maka sayang sekali, mereka kuliah di tempat yang bagus, mereka kenal banyak figur hebat seperti Buya Syafii, Bapak Busyro yang memilki pemikiran luas dan sejarah panjang dalam pembentukan Indonesia. Sehingga IMM harus memanfaatkan segala kemudahan tersebut dalam memberikan kontribusi dan pemikirannya.”

Sementara itu, wakil DPRD DIY,  Arif Noor Hartanto berharap “ Semoga melalui seminar ini akan terlahir generasi dengan idealisme-idealisme yang memang tidak akan pernah luntur dengan kondisi zaman seperti apapun.” Politisi PAN ini juga menyatakan bahwa, “ Saya kira DPRD apabila diajak kerja sama tentu kami akan menyambut sangat baik untuk bisa memberikan berbagai informasi, materi yang itu sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk bisa membaca bagaimana proses kebijakan dan keputusan itu diambil dan dititik mana kerawanan tindak korupsi itu.”

Kemudian, menurut Hasrul Halili, “Setelah seminar kebangsaan dengan tema korupsi ini, sebaiknya UAD menindaklanjuti dengan hal-hal yang lebih programmatik, misalnya bagaimana mengikhtiarkan kegiatan-kegiatan pendidikan anti korupsi seperti melakukan kegiatan KKN anti korupsi, kegiatan perekaman tindak pidana korupsi atau mengadakan mata kuliah klinik anti korupsi yang bisa menjadi concern dari Unversitas Ahmad Dahlan.”

Lebih dari itu, Ketua Korkom UAD, Suhaibun Febrianto menyatakan, “ Acara ini sangat baik sekali, karena seperti yang dikatakan Pembina IMM UAD, Sucipto,  dalam sambutannya, bahwa kita membutuhkan kader bangsa yang mampu memelopori gerakan jihad anti korupsi. Semoga seminar ini tidak hanya sebagai formalitas saja tetapi dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan yang lebih terarah dan programatik, seperti terus mengkampanyekan gerakan anti korupsi atau bahkan membentuk sebuah komunitas gerakan anti korupsi.”

Salah satu seminar kebangsaan, Waode Sartika, mahasiswa Pendidikan Bahasa inggris UAD berharap ada tindak lanjut dari seminar kebangsaan ini dalam mengembangkan pola-pola kegiatan untuk terus mengokohkan bangunan ideologi anti korupsi tersebut dan bisa mengadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga untuk terus menggelorakan semangat anti korupsi, sehingga gerakan anti korupsi tidak hanya selesai pada seminar seperti ini.(Nila)