PENDIDIKAN FISIKA WAKILI UAD KE JEPANG

0
43

YOGYAKARTA — CAP 2018 adalah Communicating Astronomy with the Public Tahun 2018, sebuah konferensi yang diadakan oleh International Astronomical Union (IAU). IAU memiliki lebih dari 10.000 anggota aktif dari 98 negara di seluruh dunia yang misinya adalah untuk mempromosikan serta menjaga ilmu astronomi dalam semua aspek melalui kerjasama internasional.

Sejak 2003, konferensi CAP telah memfasilitasi pertukaran gagasan dan praktik terbaik dalam bidang Astronomi. Konferensi ini membantu memperkuat komunitas professional lokal dengan menghubungkan mereka ke jaringan global. CAP di Jepang ini akan menjadi kesempatan unik untuk bertemu tatap muka dengan para professional baru di komunitas komunikasi Astronomi Jepang, Asia, dan di seluruh dunia.

CAP 2018 ini berlangsung di Fukuoka City Science Museum. Jepang memiliki Observatorium Astronomi Nasional Jepang (NAOJ), organisasi penelitian astronomi terkemuka, dan kota Fuokoka adalah daerah dengan koneksi historis untuk sains dan astronomi. NAOJ dan IAU bekerjasama untuk membawa komunitas astronomi dan pendidikan internasional ke Jepang, untuk secara langsung mengalami Jepang terbaru dan kemajuan Asia dalam komunikasi astronomi.

Terdapat 400 peserta dari seluruh dunia yang mengikuti kegiatan CAP 2018. CAP 2018 menyediakan grant (hibah) untuk 12 presenter dan poster terbaik, dengan jumlah grant yang didapat adalah 100.000 yen. Salah satu diantaranya adalah karya Ricka Tanzilla, Ratnawati dan Yudhiakto Pramudya, Ph.D dari Pendidikan Fisika FKIP Universitas Ahmad Dahlan.

Ricka Tanzilla mempresentasikan karyanya dengan judul Challenges and Strategies for Developing Inclusive Outreach Using Buku Menteri Project. Sebuah karya hasil penelitian yang lolos didanai dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diluncurkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi tahun 2016. Ricka, Ratna, Putri (Pendidikan Fisika) dan Istinganah (Ilmu Kesehatan Masyarakat) yang dibimbing oleh Yudhiakto, Ph.D berhasil mengembangkan sebuah buku pembelajaran astronomi untuk siswa berkebutuhan khusus (tunanetra). Mencerap Tata Surya dengan Gambar Tactile Buatan Sendiri (Mentari), Sebagai Media Edukasi Astronomi Inklusi.

Melalui pesan elektronik, Ricka menyampaikan harapannya agar astronomi dapat diketahui dan dimengerti oleh masyarakat luas dengan beragam latar belakang tanpa membedakan Pendidikan, usia, gender termasuk kepada penyandang disability. “Semoga para sains communicator dapat memberikan wawasan ilmu astronomi bukan hanya diketahui untuk kalangan orang-orang sains, tapi astronomi juga diketahui oleh public (masyarakat umum) tanpa membedakan latar belakang pedidikan, usia, gender, dan juga untuk penyandang disability”, ungkap Ricka.

Selain Ricka, peserta dari Indonesia juga berasal dari ITB, LAPAN, UGM, dan Planetarium Jakarta. Ricka mengaku semakin bersemangat untuk terus mengkomunikasikan astonomi kepada masyarakat luas dan pastinya senang dapat belajar langsung bersama astronom professional di bidang Public Outreach. “