MAJELIS TARJIH IBARAT RUH

0
52

YOGYAKARTA — Pelatihan Kader Ulama Tarjih Muhammadiyah tingkat ibtidai diselenggarakan pada tanggal 31 Maret 2018-1 April 2018 di Wisma Sargede, Jalan Pramuka, Yogyakarta. Pelatihan ini dihadiri oleh cabang, beberapa amal usaha, MTT PDM, MTT PWM. Pelatihan Kader Ulama Tarjih Muhammadiyah ini merupakan acara yang berkelanjutan dari tingkat ibtidai, wusto dan ala. Peserta dalam pelatihan ini terdiri dari MTT( Majelis Tarjih & Tasjid Muhammadiyah) Se-DIY, beberapa  Pimpinan cabang dan beberapa AUM yang meliputi Madrasah Muallimat, Madrasah Muallimin, SMA Muhammadiyah 1, dan Pondok Pesantren Mahasiswa UAD (Persada).

Materi-materi yang disampaikan meliputi, Paham Agama Muhammadiyyah, Ulumul Quran, Ulumul Hadist, yang dihadiri oleh pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya, seperti Prof. Syamsul Anwar, Prof. Yunahar Ilyas, Ust. Wawan Gunawan, Ust. Asep Salahuddin dan Ust.  Ruslan Fariyadi.

Agus Salim, Ketua Mjaelis Tarjih Muhammadiyah, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan suatu bentuk perkaderan di Muhammadiyah, karena kita melihat ada krisis ulama di Muhammadiyah, sehingga diantara solusinya adalah dengan melakukan pelatihan kader tarjih Muhammadiyah ini.

“Pelatihan kader ini harus berlanjut sehingga kaderisasi ulama di Muhammadiyah khususnya majelis tarjih berjalan dengan baik, kemudian bagi Muhammadiyah harapannya pelatihan semacam ini dilanjutkan mengingat adanya krisis ulama sebagai rujukan di Ranting dan Cabang.” harap Agus Salim.

Salah satu peserta Pelatihan Kader Muhammadiyah, Asep Rahmat Fauzi, delegasi kota Yogyakarta memaparkan bahwa kegiatan pelatihan ini adalah hal yang bagus karena kita di akar rumput memerlukan sekali pelatihan seperti ini, sehingga setidaknya kita mendapatkan gambaran bahwa proses menggali hukum itu penuh dengan tahapan yang detail, dengan demikian kami yang di Daerah/ Cabang memiliki pengetahuan itu dan tertolong untuk memahami produk-produk yang dihasilkan dari Pusat. Selaku delegasi Kota Yogyakarta dalam Pelatihan Kader Tarjih Muhammadiyah, Asep Rahmat Fauzi berharap pelatihan ini tidak hanya berlangsung sekali saja, namun harapannya ada tahapan lanjutan dari pelatihan ini. Lebih dari itu, Asep menyayangkan terkait intensitas waktu pelatihan yang hanya berlangsung dua hari, karena materi yang disampaikan pada hari pertama begitu padat dan di hari kedua sudah berakhir sehingga idealnya pelatihan seperti ini berlangsung lebih dari dua hari.

Ust. Ruslan Fariyadi, selaku salah satu Pembicara, menyampaikan “pelatihan ini bagus dan kegiatan ini merupakan bagian dari program yang sifatnya nasional dan dulu kita juga pernah mengadakan TOT tingkat nasional yang dihadiri perwakilan Majelis Tarjih Wilayah Se Indonesia, sehingga selesai mereka melaksanakan TOT nasional, mereka memiliki kewajiban menyelenggarakan pelatihan di Wilayah masing-masing. Kemudian, kita juga sudah membuat buku panduan TOT untuk wilayah, yaitu mulai dari tingkat ibtidai(pemula), wusta(menengah) dan ula(tinggi) dan MTTPWM sudah  melaksanakan sesuai dengan program kita dan ini termasuk sesuatu yang positif dalam rangka meminimilasir krisis ulama di Muhammadiyah. ”

Lebih dari itu, Ruslan Fariyadi menyampaikan bahwa Majelis Tarjih ibarat ruh. Maka, fisik & jasad tanpa ruh mati, dan Muhammadiyah tanpa Majelis Tarjih itu gersang karena tidak lagi menjadi organisasi keagamaan berarti tidak ada bedanya seperti LSM. Sehingga, majelis tarjih menjawab kegelisahan terkait dengan ulama di internal Muhammadiyah, sekalipun ulama itu tidak bisa dikarbit/diciptakan, karena ulama-ulama itu harus melewati proses, tetapi pembekalan terhadap ilmu-ilmu dasar juga sangat diperlukan dalam hal ini. Sehingga pelatihan kader majelis tarjih ini begitu urgent untuk dilaksanakan.

Dalam hal ini, antusiasme peserta begitu tinggi, hal tersebut terlihat dari beberapa indikator. Indikator pertama respon dan indikator kedua pertanyaan yang muncul. Respon peserta dalam pelatihan ini begitu positif dan luar biasa. Respon itu terlihat karena peserta yang mengikuti pelatihan ini adalah mereka yang merupakan ujung tombak muhammadiyah, sebagai seorang organisator, dai, dan ustadz di tingkat wilayah mereka masing-masing, apalagi mereka mengikuti pelatihan ini pasti meninggalkan keluarga, aktivitas dan liburan mereka,ini menjadi bukti bahwa mereka mengikuti pelatihan ini atas dasar kesadaran, sehingga segala sesuatu yang dimulai atas dasar kesadaran maka antusiasme akan muncul secara alamiah.

Majelis Tarjid & Tarjih Muhammadiyah berharap: Pertama, pelatihan ini tidak hanya sekedar teori saja, tetapi peserta dapat mempraktikkan dan nyatanya saat ini mereka sedang berproses bagaimana cara penelitian hadist, memahami hadist dan sebagainya. Kedua, harapannya para peserta tidak berhenti mengaktualisasikan ilmu yang didapatkan, tetapi juga dapat ditindak lanjuti ditengah masyarakat. Ketiga, sebagai dai-dai muhammadiyah dalam menyampaikan sesuatu harus berdasarkan argumentasi dan dalih yang jelas. Terakhir, idealnya, para peserta kader majelis tarjih muhammadiyah dapat mengadakan  pelatihan yang sama di daerah mereka masing-masing.

Oleh karena itu, “Beragama itu harus dengan ilmu, karena kita ketahui masyarakat pada umumnya beragama sesuai dengan tradisi dan kebiasaan bukan berdasarkan pencapaian dari sebuah proses kajian dan sebagainya. Sehingga mari kita mensosialisasikan hasil yang didapatkan dalam  pelatihan ini dan mari kita tindak lanjuti pelatihan ini di wilayah kita masing-masing.”  Tutup Ruslan Fariyadi selaku pembicara dalam Pelatihan Kader Majelis Tarjih Muhammadiyah. (nila)