Kisah Tongkat Baru dan Tongkat Cantik

0
144

Oleh: Erik Tauvani Somae

Orang tua itu tidak pernah melewatkan salat berjamaah di masjid dekat rumahnya. Kala azan berkumandang, langkah demi langkah ia ayunkan pelan-pelan untuk menjaga keseimbangan. Sambil berjalan, kepalanya sering kali menunduk, seolah ia sedang menandai setiap langkahnya dengan zikir. Sesekali memandang ke depan untuk memastikan bahwa jarak tujuan kian dekat.

Ia tidak sendiri. Ada tongkat yang senantiasa menemaninya ke mana pun ia pergi. Tongkat kaki empat. Tanpa tongkat ini, mungkin kenikmatan bisa salat berjamaah di masjid dan bersua dengan para jamaah hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Betapa berharga sebuah kesempatan dan kesehatan bagi kakek usia kepala tujuh ini. Ia begitu bahagia meskipun berjalan harus ditemani tongkat kaki empat. Salat pun jua harus duduk di atas kursi yang sengaja disediakan takmir untuk mereka yang memerlukan. Usia tidak lagi muda, orang sudah maklum. Yang masih muda patut belajar pada kakek ini. Belajar tentang bagaimana memaknai hidup selagi kesempatan dan kesehatan masih lagi di kandung badan.