Kesalihan Pak Amien Rais dan Seberapa Kadar Malu Kita

0
382

Setelah beberapa jam menekuni Orhan Pamuk dalam The Red-Haired Woman, sembari menanti masakan Ibu siap seduh, saya menggeser arah mata, kepala -dan mungkin juga dada- pada Twitter. Berniat mencari pencerahan dari tuitan para tokoh; agamawan, ilmuwan, budayawan, sejarawan, sastrawan pun sekadar kawan yg saya ikuti, baru segeser jempol yg saya dapat sebaliknya. Mata saya terpicing, kepala saya tersedak, dan dada saya terperosok pada suatu keterenyuhan.

Pada beranda, saya melihat salah satu kawan lama saya memuat ulang tuitan seorang publik figur -artis- bermata sipit -untuk menyebut seorang Tiongkok keturunan, tanpa tendensi apa pun, bukan pula soal rasis, blas! Sama sekali tidak! Tuitan tersebut berisi cemooh pada seorang intelektual, agamawan, negarawan, yang begitu saya kagumi; Prof. Amien Rais, diikuti dengan komentar-komentar yg membuat saya berulang kali mengucap istighfar sebagai wujud keterenyuhan yg begitu mendera dada saya.