Warisan Literasi dan Cinta Hamka (Ketika Buya Tiada)

0
25

Oleh: Roni Tabroni

Tanggal 24 Juli, 31 tahun lalu (1981) Indonesia berduka. Ulama besar kebanggaan bangsa dan ummat telah tiada. Hamka wafat dengan tenang, meninggalkan sejuta kenangan dan jasanya yang tiada tara.

Lahir dan besar di Ranah Minang, Hamka tumbuh dalam keluarga religius. Di sana Hamka kecil begitu berminat dengan sastra. Karenanya Buya Syafi’i Maarif, menujuluki Ranah Minang dengan “pabrik kearifan kata yang kaya.”

Sejak remaja Hamka melahap segudang ilmu yang jarang dibaca manusia seusianya. Hamka akrab dengan filsafat dan sejarah. Hamka juga selalu membaca sastra dan informasi tentang narasi besar dunia. Hamka juga tidak ketinggalan dengan bacaan tentang politik. Namun disamping semua itu Hamka memiliki pundamen yang sangat kokoh yaitu pelajaran dan pemahaman agama yang kuat.