Basis Teologis Permainan Sepak Bola

0
94

Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum.

Demam sepak bola Piala Dunia 2018 yang dihelat di Rusia merebak sejak kick off pertandingan pertama antara Rusia melawan Arab Saudi yang berakhir dengan kemenangan telak tim tuan rumah Rusia dengan skor 5-0. Setiap orang yang menggandrungi sepak bola terlibat dalam aktivitas dan interaksi: perbincangan, analisis, gosip infotainment, foto, berbagi informasi, banyolan, meme, fitnah, bullying, taruhan, kemanusiaan, kejahatan dan ketuhanan. Aspek yang terakhir, yaitu ketuhanan jarang didiskusikan. Paling banter hanya diberi porsi “sudah takdirnya.” Seperti pada ujaran, “kepulangan para bintang ke negaranya masing-masing itu sudah takdirnya.”

Apakah Tuhan bermain bola? Tentu saja tidak! Tampaknya tautan hati pemirsa dan penikmat sepak bola masih belum dapat dilepaskan dari kecenderungan ideologis. Kadangkala agama menjadi basis pilihan seseorang untuk mendukung tim kesayangannya. Mohamed Salah yang bermain ciamik di Liverpool dan dipasang sebagai starter di dengan tim Mesir menjadi sorotan banyak media Islam dan Barat.

Sayangnya, Mesir harus tersingkir. Ketika tim itu tersingkir, agama tak dipermasalahkan. Saat negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Iran, dan Maroko mulai bertumbangan, harapan pada negara-negara Islam tersebut tak lagi disebut. Ujaran anekdotal bisa saja berbunyi nyaring, “Tuhan tidak suka sepak bola, buktinya semua tim dari negara-negara Islam pulang kampung lebih awal.”