Siti Badilah Zubair, Feminis Awal di Muhammadiyah

0
108

Oleh: Mu’arif*

Pada tahun 1913, tiga gadis yang mengawali tradisi baru di kampung Kauman dengan cara melanjutkan studi ke sekolah netral ialah Siti Bariyah, Siti Wadingah, dan Siti Dawimah. Keberhasilan tiga gadis Kauman ini dalam menuntut ilmu di sekolah umum kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, yaitu Siti Zaenab, Siti Aisyah, Siti Dauchah, Siti Dalalah, Siti Busyro, Siti Hayinah, dan Siti Badilah (Ahmad Adaby Darban, 2000: 47).

Empat tahun kemudian (1917), gadis-gadis Kauman yang telah mendapat pendidikan umum tergugah kesadaran mereka untuk merintis pergerakan perempuan Islam.

Dalam sebuah pertemuan dengan jajaran Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah yang diselenggarakan pada tahun 1917, para gadis Kauman tersebut mengajukan usul pembentukan organisasi perempuan.

Mereka mendiskusikan dengan para tokoh Muhammadiyah dalam rangka pembentukan sebuah organisasi yang mewadahi aspirasi kaum perempuan di Muhammadiyah (Baca “Tarich Moehammadijah dan ‘Aisjijah.” Soeara ‘Aisjijah no. 10 Tahun XV/Oktober 1940). Di antara para gadis Kauman yang hadir dalam pertemuan penting tersebut adalah Siti Badilah.