Keistimewaan Siti Bariyah, Ketua ‘Aisyiyah Pertama (1)

0
74

Oleh: Mu’arif*

Dia satu di antara tiga gadis Kauman (Yogyakarta) yang mengenyam pendidikan di Sekolah Netral (Neutrale Meisjes School). Bersama dua sahabatnya, ia berani menerobos tradisi, masuk sekolah netral yang dikelola oleh orang-orang Belanda.

Pada waktu itu, persepsi masyarakat Kauman tentang budaya orang-orang Belanda dianggap sebagai kekufuran. Siapa yang mengikuti atau menyerupai budaya orang-orang Belanda, maka ia dianggap termasuk bagian dari mereka (man tasyabaha bi qaumin, fa huwa min hum).

Ditambah lagi, masyarakat Kauman pada waktu itu juga masih beranggapan bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah, tidak patut menuntut ilmu yang tinggi, karena ujung-ujungnya hanya akan mengurusi dapur.

Namun ia memberanikan diri menerobos tradisi, mengikuti arahan yang disampaikan seorang kiai kharismatik bernama KH. Ahmad Dahlan (Khatib Amin Masjid Agung Yogyakarta). Gadis berparas ayu itu bernama Siti Bariyah.