Surat-menyurat Dua Tokoh Muda NU-Muhammadiyah

0
7
Bingkai pesan Buya HAMKA di pojok warung sate Mak Syukur, Padang Panjang

Oleh: Abdullah Alawi*

Berbeda organisasi dan pemahaman merupakan hal biasa bagi tokoh-tokoh umat Islam pada masa lalu. Berdebat terbuka atau polemik di surat kabar mereka lakukan tanpa mengurangi kehangatan saat bertemu di satu kesempatan. Ada yang lebih tinggi dari organisasi yaitu ukhuwah islamiyah.

Ada kisah saling menghormati antara tokoh NU dan Muhammadiyah, yaitu antara KH Idham Chalid (pernah Ketum PBNU) dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal Buya Hamka.

Konon kedua tokoh itu pernah berjemaah salat Subuh. Kiai Idham menjadi imam. Meskipun ia orang NU, memilih tidak membaca kunut karena jemaah di belakangnya ada Buya Hamka. Sebaliknya ketika Buya Hamka menjadi imam salat Subuh, ia justru membaca kunut.

Jauh sebelumnya, di tahun 1940, saat menjadi pengarang Pedoman Islam di Medan, Buya Hamka juga mengapresiasi pandangan Ketua Umum Hoopdbestuur Nahdlatoel Oelama KH Mahfudz Shiddiq tentang ijtihad dan taqlid. Apresiasi itu disampaikannya dalam bentuk surat.