AR Fachrudin dan Kristenisasi

0
24

Suatu hari Pak AR Fachruddin didatangi mahasiswa yang kost di sekitar kali Code Yogyakarta. Mereka mengeluh karena setiap Ming­gu kampung mereka didatangi Pastur yang menyebarkan agama Kristen. Banyak anak tertarik pada kehadiran Pastur itu.

“Pastur itu pandai sekali menarik anak-anak sehingga mereka senang mendengarkan ceramahnya. Pastur itu kadang membawa permen, buku tulis dan lainnya,” kata mereka, “Kalau begitu apa yang sudah kalian lakukan?” tanya Pak AR “Ya belum melakukan apa-apa, belum bisa,” jawab para mahasiswa.

Inilah penyakit umum di antara kita. Jika menghadapi ma­sa­lah, langkah paling awal dan paling utama dilakukan adalah me­ngeluh. Lalu meyampaikan kepada orang lain agar mengatasi ma­salahnya. Celakanya dengan menyampaikan kepada orang lain kita merasa tugas sudah selesai. Pertanyaan yang sering kita lakukan adalah “mengapa”. Mengapa Pastur itu datang? Me­ngapa anak-anak-anak tertarik? Lalu berhenti di situ. Tidak di­sambung dengan pertanyaan: “Apa”. Apa yang harus saya lakukan untukmengatasi masalah ini?

Pak AR memang lain. Mari kita perhatikan apa yang dilakukan Pak AR. “Adakah di antara kalian yang bisa menyanyi?” tanya Pak AR kepada paramahasiswa itu. “Ya, bisa kalau untuk didengar diri sendiri,” jawab mahasiswa. “Ada yang bisa main gitar, punya gitar?” tanya Pak AR. “Ya bisa,” jawab mereka. “Ada yang bisa membuat mainan dari kertas, seperti burung kertas atau kapal terbang atau kupu-kupu kertas?” tanya Pak AR. Mereka menjawab bisa. “Ada yang bisa mengajar berhitung? Bisa mendongeng? Bisa mengaji?” tanya Pak AR. “Bisa!” jawab mereka.