Buya Hamka, Halal Bil Halal dan Jalan Kelam Sesudahnya

0
19

Hari ini dan sesudahnya hingga Syawal 1440 Hijriyah berakhir, mungkin akan ada puluhan undangan halal bihalal yang kita terima.

Ya, halal bihalal memang sudah menjadi tradisi yang mengiringi perayaan Idul Fitri bagi kita dan bangsa Indonesia.

Dalam KBBI, halal bihalal berarti hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Sebuah tradisi yang sangat adiluhung karena dalam halal bihalal ada nilai silahturahmi, maaf-memaafkan dan lapang dada.

Banyak versi tentang sejarah asal muasal halal bihalal. Ada yang mengatakan sejarah halal bihalal sudah ada sejak era raja pertama Mangkunegaran Solo, Pangeran Sambernyawa yang kemudian bertahta dengan gelar Mangkunegara I.

Ada pula yang mengatakan halal bihalal dicetuskan oleh sekelompok pemuda Kauman Yogyakarta setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, yang proklamasinya sendiri memang terjadi di saat Ramadhan tahun 1945.

Ada sejarah pula yang menuliskan halal bi halal dikenalkan oleh interaksi KH Wahab Chasbullah dengan Bung Karno saat tahun 1948. Di mana saat itu kondisi bangsa sedang genting akibat perseteruan politik.

Ada pula cerita, yang mengenalkan pertama kali kata halal bihalal adalah pedagang martabak dari India di pasar malam Sriwedari Solo sekitar tahun 1935-1936. Saat itu dia menjajakan martabak dagangannya dengan berteriak “martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal”.

Sejarah halal bihalal juga tidak bisa dilepaskan dari sosok Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi saat itu.