Papua: Anak Emas Presiden, Anak Tiri Indonesia

0
7

Oleh: Muhammad Hasnan Nahar*

Papua adalah anak emas presiden. Berkali-kali ia mengunjungi Papua. Jokowi tercatat sebagai satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang paling banyak datang ke Papua (8 kali). Kedatangannya selalu disambut gembira.

Di sisi lain, Papua adalah anak tiri bagi Indonesia. Walau Papua banyak membantu pemasukan negara melalui Freeport, tak menjadikan Papua kaya raya, sebaliknya Papua menempati peringkat pertama penduduk miskin terbesar di Indonesia dengan angka kemiskinan hingga 27,53% (data BPS per Maret 2019). Tidak mendapatkan apa-apa dari tambang, tapi harus menanggung dampak kerusakan alam yang ditimbulkan.

Papua makin ditirikan Indonesia dengan stigma sebagai kelompok pemberontak. Semua kegiatan yang berkaitan dengan orang Papua dianggap provokasi untuk merdeka. Ia perlu diawasi seketat mungkin.

Ada kata Papua saja dalam tema diskusi, aparat diturunkan untuk memastikan tidak ada hal yang mencurigakan. Seperti halnya acara diskusi yang diadakan oleh kami, DPD IMM DIY, tidak luput dari perhatian aparat. Hadir saat diskusi 2 orang dari Koramil.

Tema yang diangkat adalah “Harmonisasi Interaksi Mahasiswa Papua Dengan Masyarakat di DIY”. Bukan judul yang berbahaya. Sebaliknya, judul menunjukkan fakta bahwa mahasiswa Papua dapat bergaul dengan masyarakat di Yogyakarta. Hanya saja sikap paranoid yang sudah terlalu kuat mengalahkan sisi keobjektifan dalam menilai suatu kegiatan.

Jika melihat sejarah kembali pada tahun 1969, di bawah pengawasan PBB, Indonesia mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Masyarakat Papua memutuskan nasib mereka sendiri, apakah berdiri menjadi satu negara sendiri, atau bergabung dengan Republik Indonesia.