Sifat Konsumtif yang Tinggi Berbahaya Bagi Keselamatan Lingkungan

0
2

BANTUL — Industri fesyen menjadi salah satu industri yang menyumbang limbah bagi lingkungan. Produksi limbah ini semakin meningkat seiring dengan tingginya sifat konsumtif manusia kepada pakaian. Jejak karbon dan limbah dari pakaian banyak ditemukan terutama di tempat-tempat pembuangan akhir. Untuk itu kampanye terhadap persoalan ini harus digalakkan secara masif kepada masyarakat. Tentunya peran dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk membantu mengembalikan lingkungan menjadi baik.

Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Eart Hour Yogyakarta, Maulida Rita Widyana menuturkan bahwa meningkatnya limbah produksi pabrik garmen dipengaruhi oleh tingginya minat beli masyarakat terhadap pakaian. Hal ini juga yang mempengaruhi menumpuknya limbah sehingga mencemari lingkungan.

“Kita tidak bisa menyalahkan pabrik secara langsung terkait limbah yang dihasilkan. Tetapi, bahan berbahaya yang dihasilkan dari pabrik tersebut juga dipengaruhi oleh kita sebagai konsumen. Semakin sering kita beli baju, maka semakin banyak limbah yang dihasilkan,” ujarnya saat mengisi Workshop Limbah Kain yang diadakan oleh Fismo Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (24/10) di Gedung E7 Lt. 5 UMY.

Selain daya konsumtif masyarakat tinggi terhadap pakaian yang mempengaruhi peningkatan limbah pabrik. Peran Indonesia sebagai negara pengekspor teksil ke berbagai negara juga menjadi penyebabnya. Banyak pabrik dari berbagai merek ternama di dunia menempatkan negara berkembang sebagai penghasil produk yang mereka jual karena biaya produksi yang rendah.

“Indonesia menjadi salah satu pengeskpor barang garmen tertinggi di dunia. Ditambah lagi dengan pabrik yang tidak mengolah limbahnya dengan baik. Kami menemukan fakta bahwa ada salah satu pabrik di daerah Jakarta Utara yang membuang limbahnya langsung ke laut, itu kan bisa berbahaya sekali bagi lingkungan,” imbuh Maulida.