Mewartakan Bencana dengan Perspektif Tangguh Bencana

0
18

Kegiatan yang dihadiri 70 orang peserta utusan sekolah dan berbagai stake holder yang peduli dengan kegiatan pengurangan risiko bencana itu berlangsung dengan sukses: menghasilkan kesepakatan untuk mulai berani menuliskan pengalaman tentang pengurangan risiko bencana di lingkungan masing-masing peserta.

Pada kesempatan itu, Supriyono, pegiat kebencanaan dari Cangkringan, Sleman, menceritakan betapa dunia kerelawanan merupakan panggilan kemanusiaan yang ikhlas dan mendarah daging bagi para relawan.

Rizal Dewantoro, reporter Majalah SM menyampaikan, di era digital 4.0 ini komunikasi massa proses di mana pesan-pesan diproduksi secara massal dan disampaikan kepada penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen. Hebohnya televisi swasta pada Oktober 2010 yang menyiarkan kabar wedhus gembel (awan panas) telah meluncur sejauh 25 kilometer, langsung membuat kepanikan hebat para pengungsi di Hargobinangun, Pakem.

Setelah dikonfirmasi ternyata yang dimaksudkan bukan awan panas yang mematikan, tetapi hujan abu yang tidak begitu berbahaya. 

“Kasus ini bisa jadi contoh peran media massa tidak semata berfungsi menghadirkan realitas ke publik, namun bisa menimbulkan bias informasi yang bisa subyektif,” papar Rizal Dewantoro.

Di sisi lain, Ariful “Aril” Amar,  CEO Adsea.id ketika uraikan vlog tentang tangguh bencana menampilkan presentasi bagaimana generasi milenial, generasi Y yang akrab dengan gadget, memerlukan treatment dan pendekatan yang sesuai dengan gelombang mereka.“Pengurangan risiko bencana didekati dengan tayangan interaktif yang singkat, namun pesannya tersampaikan dengan jitu mengena,” tandas Amar. (*/)