Yang Tak Boleh Hilang Dari Muhammadiyah

Oleh: Fahd Pahdepie*

Senin malam (18/11) digelar resepsi milad ke-107 Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sekitar 20.000 orang berkumpul untuk merayakan momen istimewa itu, mereka datang dari berbagai daerah.

Meski cuaca sempat hujan, tak sedikit pun menyurutkan langkah ribuan warga Muhammadiyah untuk berkumpul. Banyak di antara mereka ibu-ibu yang membawa anak-anak atau orangtua yang sudah sepuh. Tapi tak ketinggalan juga para remaja belia dan pemuda-pemudi yang berjalan bangga mengenakan jas almamater dan seragam ortom. Saya terharu ketika melihat jas kuning IPM atau jas merah IMM yang mereka kenakan menjadi lebih pekat warnanya–basah karena hujan.

“Sang Surya memanggil,” ujar sahabat saya ketika saya tanya mengapa rela jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menghadiri acara milad ini? Saya tersenyum mendengar jawaban itu, ada perasaan hangat di dada saya ketika mendengarnya.

Setelah acara dibuka dengan lantunan ayat suci al-Quran yang dibacakan secara luar biasa oleh seorang mahasiswi UMY peraih beasiswa hafidz Muhammadiyah, hadirin kemudian dimohon berdiri. Tak lama layar-layar LED raksasa yang memenuhi area sportorium megah itu menampilkan gambar bendera merah putih. Diiringin UMY Philarmonic Orchestra, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selalu ada haru dan bangga ketika lagu itu dinyanyikan bersama.

“Muhammadiyah tidak perlu sibuk mengatakan NKRI harga mati, karena kiprahnya sudah menunjukkan bukti yang tak bisa ditolak.” Ujar Prof. Muhadjir Effendy, Menko PMK, dalam testimoninya, “Pengabdian Muhammadiyah untuk Bangsa dan Negara ada dan nyata, melalui puluhan ribu sekolah, ribuan universitas, ratusan rumah sakit dan lainnya. Bagi Muhammadiyah, Indonesia adalah Darul ‘Ahdi Wasy-Syahadah. Tak ada konsep negara lain yang diterima di Muhammadiyah kecuali Negara Kesatuan Republik Indonedia.” Hadirin bergemuruh bertepuk tangan. Saya kira malam itu sekaligus menjadi selebrasi nasionalisme a la Muhammadiyah.