Sabahat yang Menghibur

0
13

Oleh: Abdul Muin Malilang

Subuh 3 Januari 2020, saya dikejutkan oleh berita medsos bahwa sahabatku telah pamit.

Berita yang tidak kuinginkan, tapi itulah ketetapan-Nya. Dan, kepergianmu menjadi goresan kepedihan hatiku yang terdalam di awal tahun 2020.

Betapa tidak? Sejak pertemuan sekaligus persahabatan kita di tahun 1984 — ketika kamu pertama kali ditugaskan mengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta — kita sudah melakukan diskusi-diskusi kecil, baik di ruang guru saat istirahat, di ruang makan ketika musyrif mengajak kau ikut menikmati hidangan ala pondok yang gizi dan proteinnya jauh dari standar minimal.

Begitu juga diskusi kecil kita lakukan di kala kamu transit di kamar tidur saya, sekadar menunggu giliran jam mengajar. Bahkan, kamar saya juga menjadi kamarmu, karena kamu tidak ragu masuk dan tidur-tiduran sekadar istirahat walau tanpa saya sekalipun. Maklum, saat itu predikat kita sama-sama bujang.

Seiring perjalanan waktu dan kesibukan kita yabg berbeda, intensitas pertemuan kita agak berkurang. Namun, di hampir setiap kegiatan Muhammadiyah — khususnya di Yogyakarta — dapat dipastikan kita selalu berjumpa.

Bahkan, kamulah orang kedua setelah guru saya Suprapto Ibnu Juraimi, yang saya beri kabar bahwa saya akan melamar.

Seingat saya, peristiwa itu berlangsung di kantor PP Muhammadiyah Jl KHA Dahlan 103 Yogyakarta.