Prihatin pada Kesehatan Fisik para Ustadz Muhammadiyah

Sebagian ustadz sudah menyadari resikonya, namun terdorong oleh rasa ingin menghormati tuan rumah, mereka pun tetap menyantap suguhan “berbahaya” itu. Dan akumulasinya, sejumlah ustadz muda pun sekarang sudah terpapar penyakikt degeneratif. Tidak percaya? Ayo kita survai!

Ketiga, mereka bertiga “tinggal serumah” di Pondok Pesantren Budi Mulia Yogyakarta. Buya Prof Yunahar Ilyas, Bang Said Tuhuleley, dan Ustadz Suprapto Ibn Juraimi adalah tiga di antara banyak ustadz yang mendedikasikan dirinya sebagai pengasuh PP Budi Mulia. Bahkan Prof Yun dan Bang Said, hingga wafatnya bertempat tinggal di sana. Lantas apa hubungannya?

Entah secara kebetulan atau tidak, ketiga tokoh tersebut merupakan “kader penerus” dari Prof Amien Rais di PP Budi Mulia. Namun kini Prof Amien Rais telah ditinggalkan lebih dahulu oleh para kader tersebut. Sekali lagi, terlepas dari maut sebagai qadarullah, Padahal, sama dengan semua juru dakwah Muhammadiyah, Prof Amien Rais hingga saat ini (usia 75 tahun) masih aktif berdakwah. Bahkan di kancah politik bisa dibilang masih se-‘garang’ jaman beliau memimpin reformasi dulu.

Apa rahasianya? Sepanjang yang saya ketahui, prof Amien Rais menjaga kesehatannya dengan membiasakan diri berpuasa Daud, sebagaimana juga dilakukan oleh presiden BJ Habibie Allah yarham. Dengan membiasakan berpuasa, termasuk mengendalikan diri dalam acara-acara dakwah yang mendorong makan banyak dan enak, lantas juga berolahraga, prof Amien Rais bisa tetap dikaruniai kesehatan dan kebugaran. Saya duga prof Amien Rais juga rutin melakukan cek kesehatan pribadinya.

Kesimpulan saya, pertama, para juru dakwah harus menyeimbangkan antara semangat dakwah dengan semangatnya menjaga kesehatan fisiknya sendiri. Kedua, ummat juga harus menyadari bahwa para ustadz harus dijaga kesehatannya. Ketiga, harus ada lembaga yang concern dalam masalah ini. Hemat penulis, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah, didukung oleh amal-usaha Muhammadiyah lainnya, harus segera mengagendakan masalah kesehatan para juru dakwah Muhammadiyah. Meteka adalah aset yang sangat berharga. Misalnya dengan menjadwal check up serta konsultasi kesehatan.

Ibarat sedia payung sebelum hujan, cek kesehatan membuat para juru dakwah lebih waspada dan antisipatif terhadap problem kesehatan fisiknya demi kelangsungan dakwahnya tersebut. Hal ini penting sebab mendidik kader dakwah adalah sebuah ikhtiar yang sangat sulit, tapi lebih cepat kehilangan kader dakwah, apalagi sekaliber Prof Yun, Bang Said, dan Ustadz Prapto, jauh lebih sulit untuk segera mendapatkan penggantinya.

Wallahu a’lam.


UMY 20200103