Yunahar Ilyas Penggagas Feminisme Islam

Oleh: Siti Ruhaini Dzuhayatin

Di antara banyak rasa kehilangan, apresiasi, laqob dan pujian terhadap gagasan dan pemikiran Ustadz Yunahar dari berbagai kalangan, ada kesan mendalam dari perjumpaan saya dengan beliau di sekitar tahun 1995-2000, pada saat ghirah dan gairah kontestasi feminisme dan agama sangat pasang. Bukan semata dalam Islam, tapi seluruh agama.

Gender  sebagai pisau analisis begitu “tajam” membedah dan membersihkan. Dalam bahasa Buya Syafii: lumpur-lumpur hitam yang mengotori pesan suci agama terhadap perempuan – patriarkhi menempel pada pemahaman keagamaan, yang membuat perempuan terpuruk selama berabad-abad.

Awal 1990-an adalah era perempuan dan agama – perempuan “berani” mengklaim kapasitas dan otoritasnya untuk “bicara” tentang dirinya sendiri dengan kekuatan intektual dan kemampuan bahasa: mempertanyakan, menganalisis, mengkritik dan menemukan “sisi-sisi emansipatoris” ajaran agama yang mulia dan memuliakan perempuan.

Feminisme dan analisis gender sangat kritis membedah ideologi-ideologi kultural sampai pada asumsi  “binary opposition” yang tersembunyi dalam ungkapan bahasa para penafsir dan “the author” khazanah agama, termasuk bahasa Arab, bahasa al-Qur’an dan khazanah Islam yang berabad tidak dipersoalkan.

Kemunculan tulisan-tulisan saya awal 1990-an banyak mendapat respon: konservatif, moderat dan progresif — dan khalayak memang membutuhkan “klarifikasi dan legitimasi” dari narasi dan diskursus yang kami, aktifis perempuan — yang dalam bahasa Alimatul Qibtiyah disebut “Feminist Muslim”, maka tahun-tahun itu adalah panggung bagi saya dan Ustadz Yunahar dalam membahas isu feminisme dan kesetaraan gender dalam Islam, pada awalnya bersifat argumentatif- kontestatif yang dalam spektrum Ma’moen Murad, beliau masuk “moderat kanan”.

Namun harus saya akui bahwa Ustadz Yunahar pada masa itu berada pada aras “konservatif” dan saya diposisikan dalam “femininisme liberal” oleh Mahasri Sobahya.