Historisitas yang Melanggar Perjanjian

0
2

Oleh: Afnan Hadikusumo

Hiduplah di sebuah wilayah empat orang yang bertetangga: Kang Karyo, Mat Sani, Dul Kamit, dan Cak Dikun. Ke empatnya memiliki wilayah perkebunan, yang masing-masing perkebunan itu ditandai dengan pathok-pathok yang jelas sesuai dengan perjanjian.

Di wilayah tersebut banyak sekali berkeliaran ayam hutan. Namanya juga ayam liar, mereka akan berpindah-pindah lokasi untuk mencari makanan pokok mereka.

Ayam hutan tersebut sering ditangkapi. Selain untuk memenuhi gizi keluarga, juga dijual untuk menambah income.

Kondisi ekonomi ke empat tetangga tersebut boleh dikatakan dalam taraf berkembang. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan yang sedikit agak mewah, harus berhutang kepada tetangga mereka yang lebih kaya, yang jauhnya puluhan kilometer dari wilayah tersebut, yakni Tuan Dekok.

Tuan Dekok adalah orang kaya baru (OKB) yang memiliki perkebunan sangat luas, centheng yang banyak, anaknya pun juga banyak.

Walaupun jarak rumahnya jauh, tapi karena memiliki banyak harta, maka dia sering menjadi tumpuan harapan bagi empat orang tetangga itu untuk “NGUTANG”.

Suatu saat, anak-anak Tuan Dekok ketahuan mengejar-ngejar dan menangkap ayam hutan di sekitaran kebun Kang Karyo, dimana lokasinya jauh dari wilayah Tuan Dekok. Sehingga menimbulkan protes dari Kang Karyo maupun anak-anaknya, yang menurut mereka anak-anak tuan Dekok telah melanggar garis batas wilayah, sebagaimana yang sudah diatur dalam perjanjian.

Akan tetapi protes tersebut diabaikan. Dengan alasan bahwa nenek-moyang mereka dulu ketika berburu ayam hutan itu sampai di wilayah perkebunan Kang Karyo, Mat Sani, Dul Kamit, dan Cak Dikun.