Penyebab Faham Salafi Subur di Muhammadiyah

0
48

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi
(Ketua Pusat Tarjih Muhammadiyah UAD)

Muhammadiyah dan Salafisme di bulan September ini, menjadi topik yang hangat diperbincangkan di medsos. Setidaknya ada tiga tulisan yang secara kritis menyoroti sepak terjang keduanya. Tulisan pertama berjudul Menyikapi Tren Salafisme di Muhammadiyah oleh Biyanto, wakil sekretaris PWM Jawa Timur. Tulisan kedua ditulis oleh Nurbani Yusuf ketua PDM kota Batu berjudul Muhammadiyah Salafi: Persilangan Identitas Baru?. Terakhir, yang ketiga, ditulis oleh Sekjen DPP IMM, Robby Karman,  berjudul Membentengi Muhammadiyah dari Paham Salafi.

Jika dibaca, tampak bahwa benang merah dari ketiga tulisan tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan mereka terhadap paham salafi.  Yang mana, telah mengakar cukup kuat dalam sanubari sebagian warga Muhammadiyah.

Untuk bisa menangkal paham salafi, tentu kita harus tahu penyebab mengapa paham tersebut bisa tumbuh subur di Muhammadiyah. Karenanya, tulisan ini mencoba menelusuri faktor penyebab mengapa paham salafi bisa berkembang dengan sangat baik di Muhammadiyah.

Agar fokus, tulisan ini khusus menyoroti sekaligus mengelaborasi apa yang telah disinggung sebelumnya oleh Nurbani Yusuf dalam tulisannya di atas.

Dalam tulisannya, Nurbani Yusuf ‘meramalkan’ masa depan salafi di Muhammadiyah yang menurutnya masih akan terus berkembang pesat. Menurutnya, salah satu alasannya adalah karena “fatwa-fatwa Ustadz Salafi lebih mudah ditemukan (didapatkan) daripada fatwa-fatwa Majelis tarjih”.

Pertanyaan yang ingin dijawab oleh tulisan ini adalah seberapa mudah fatwa dari ustadz-ustadz salafi didapatkan? Dan mengapa fatwa-fatwa dari Majelis Tarjih Muhammadiyah sulit untuk ditemukan? Dua pertanyaan besar ini kemudian akan mengantarkan pada satu pertanyaan penutup: Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh Muhammadiyah?

Fatwa Online dan Fragmentasi Otoritas Keagamaan

Nico J.G. Kaptein dalam tulisannya berjudul The Voice of the ‘Ulamā: Fatwas and Religious Authority in Indonesia (Kaptein, 2004) menunjukkan faktor penting yang menentukan efektifitas suatu fatwa.