GBPH Yudhaningrat Kukuhkan Rektor UAD Yogyakarta sebagai Anggota Kehormatan PWKS

0
18

YOGYAKARTA —  Alkisah, Bambang Wisanggeni ingin meminjam dampar kencana kerajaan Hastinapura. Dia bersama Ontoseno menyampaikan secarik surat untuk menyampaikan maksud tersebut. Tetapi, maksud tersebut ditolak oleh Raja Hastina Duryudana. Karena aneh, kedudukan dan jabatan ingin dipinjam.

Lalu, pandita Durna bersama patih Sengkuni berusaha membuat tipu muslihat agar Bambang Wisanggeni tidak bisa mewujudkan keinginannya. Maka, terjadilah perang. Dua ksatria itupun maju berdua melawan para kurawa.

Cerita menarik melalui dialog itu disampaikan dalang Ki Seno Nugroho. Intinya, tidak serta-merta memaksakan kehendak.

Dan, hal itu adalah sepotong kisah seru yang dipentaskan Ki Seno Nugroho melalui wayang kulit semalam suntuk di Kampus Utama UAD Jl Ahmad Yani Ringroad Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Sabtu (18/1/2020) malam.

Melakonkan Wisanggeni Dadi Ratu, Ki Seno Nugroho dalam kesempatan itu meramu menjadi tontonan dan tuntunan yang adiluhung, penuh dengan makna dan bertabur falsafah edipeni budaya Jawa.

Malam itu, Ki Seno Nugroho selalu menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat sekitar kampus utama UAD dalam pagelaran wayang kulit hingga dinihari. Dan, mereka tidak beringsut sedikitpun. Seolah tersihir dalam alur cerita yang seru, tetapi sangat menarik.

Itu adalah pesta lokal yang memberikan suguhan seni adiluhung yang disampaikan UAD Yogyakarta dalam rangka puncak milad ke-59 UAD.