Ta’ziyah Gus Sholah

0
7

Oleh: Habib Chirzin

Kita kehilangan lagi seorang cendekiawan yang alim. Seorang sahabat yang tidak kenal lelah dalam memikirkan dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan, sebagaimana yang diperjuangkan oleh ayahanda dan sang kakek, yang kedua-duanya adalah Pahlawan Nasional.

Sebenarnya, saya mulai berkenalan dengan Gus Sholah dan Gus Dur pada tahun 1974, ketika saya menginap di kediaman Bu Wachid di Taman Amir Hamzah, Matraman. Kami makan pagi bersama Bu Wachid, Gus Dur, Mbak Aisyah dan Gus Hamid Baidhowi.

Tapi, selanjutnya, saya lebih dekat dengan Gus Dur. Saya pernah dibonceng oleh Gus Dur dengan Vespa biru, dari Tebuireng ke Denanyar.

Waktu itu, Gus Dur masih tinggal di Pesantren Denanyar, bersebelahan dengan Kyai Aziz Bisri.

Kami bekerja sama cukup akrab, ketika bersama-sama di Komnas HAM pada tahun 2002. Meskipun Gus Sholah tidak sampai akhir masa jabatan tahun 2007 karena menjadi calon Wapres.

Setelah itu, kami bersama lagi di GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia). Kami sering rapat dan ngomong-ngomong di rumah Gus Sholah di Jalan Bangka, Jakarta Selatan.

Kami juga sering melakukan kagiatan di Taman Proklamasi dan tempat-tempat lain. Juga membuat seminar di beberapa kota, termasuk di Tampak Siring dan Denpasar, Bali.