Gender-Responsif Leadership di Perguruan Tinggi

0
7

BANTUL — Realisasi gender-responsive leadership di berbagai sektor di Indonesia masih menghadapi permasalahan. Salah satunya di sektor pendidikan, yang dapat dilihat pada disparitas gender dalam berbagai level kepemimpinan pada perguruan tinggi. 

Minimnya jumlah perempuan yang menduduki pucuk kepemimpinan di perguruan tinggi, membuktikan bahwa keterwakilan suara perempuan dalam pembuatan kebijakan di perguruan tinggi masih rendah.

Berangkat dari hal ini, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bekerjasama dengan The German Academic Exchange Program (DAAD) Indonesia, University of Applied Science Kiel dan Universitas Kristen Indonesia (UKI), menyelenggarakan Workshop dan Seminar Alumni DAAD dengan tema Gender-Responsive Leadership in Higher Education Management, pada 15 sampai 19 Maret 2020 di Kalyana Resort Kaliurang, Sleman.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., mendukung gerakan kesetaraan golongan. Salah satunya dengan mendorong kaum Hawa untuk mengisi posisi strategis yang ada di perguruan tinggi.

“Kepemimpinan perempuan perlu didorong di perguruan tinggi agar perempuan mampu setara dengan laki-laki dalam jabatan-jabatan puncak di Perguruan Tinggi,” ujarnya, ditemui di sela-sela acara pada Rabu (18/3).

Sementara itu, Kepala Divisi Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY Dr. Dyah Mutiarin, M.Si, menambahkan kepemimpinan perempuan di perguruan tinggi memerlukan intervensi dari political will manajemen puncak yang pada saat ini masih banyak didominasi oleh laki-laki.