Bantuan Internasional yang Tidak Dibutuhkan

0
17

Oleh: Afnan Hadikusumo

BEGITU mendengar akan mendapatkan bantuan, biasanya orang akan sumringah dan tentu saja bahagia.

Itu juga yang saya rasakan sekitar pertengahan tahun 2006, di mana saat itu masih aktif menjadi anggota DPRD Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tiba-tiba ditelepon kawan yang kerja di Jepang: mengabarkan salah satu perusahaan komputer di Jepang akan membagikan komputer gratis karena komputer tersebut sudah out of date, sebanyak 5 ribu buah.

Sebagai anggota DPRD Propinsi DIY, berita gembira ini langsung saya sampaikan ke Dinas Pendidikan dan beberapa sekolah.

Manurut kawan saya yang kerja di Jepang tadi, komputernya gratis. Tapi ongkos pengiriman, pajak, dan biaya instal dibebankan kepada penerima.

Nah, alhasil ketika saya dengan beberapa teman di Dinas Pendidikan DIY serta wakil sekolah menghitung biaya yang dibutuhkan, maka setiap komputer membutuhkan biaya sebesar Rp. 2,8 juta di mana dana tersebut ternyata bisa dibelikan komputer baru buatan dalam negeri, tinggal pakai.

Akhirnya, rencana mendatangkan komputer dari Jepang itu pun tidak jadi alias batal.

Terkadang, kita terpesona dengan istilah bantuan dari luar negeri. Apalagi jika bantuan tersebut dikaitkan dengan situasi kedaruratan, semisal terjadinya bencana kekeringan, bencana gempa, erupsi gunung berapi, banjir, atau bahkan bencana kelaparan.

Namun terkadang pula bantuan tidak semanis yang dibayangkan. Terkadang bantuan yang diberikan adalah yang bukan merupakan kebutuhan masyarakat yang terkena musibah.