Pandemi Corona di antara Amerika, Cina, dan Islam

0
1123

Oleh: Robby H Abror*

Di tengah meluasnya wabah Covid-19 di seluruh dunia, ketegangan antarnegara dalam mempersepsikan penyebab virus korona tak terelakkan. Rusia, Cina dan Iran sejak awal sudah menduga bahwa Amerika Serikat yang pertama menyebarkan virus ini di dunia. Yaitu sejak rombongan atlet prajurit AS mengikuti pertandingan dunia militer di Wuhan pada Oktober 2019 .

Presiden AS, Donald Trump justru membuat pernyataan yang menyudutkan dengan menyebutnya sebagai “virus Cina”. Sedangkan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan itu “virus Wuhan”. 

Pandemi ini mengancam hubungan AS-Cina lebih senjang lagi. Washington lambat dan boleh dibilang gagal dalam mengambil inisiatif berperan aktif membantu dunia, sebaliknya Beijing bergerak lebih cepat. Cina berhasil keluar dari krisis ini lebih cepat dari yang dibayangkan dan membantu beberapa negara lainnya. 

Sudah hampir sejuta kasus positif korona. AS masih yang terbanyak dengan hampir 200 ribu kasus. AS telah menjadi pusat pandemik korona dan mulai kalang kabut, sebagaimana Italia yang telah tembus lebih dari 100 ribu kasus. Di tengah usaha melawan wabah ini, AS dikejutkan oleh tornado yang menerjang Kota Jonesboro di Arkansas pada 29 Maret 2020. 

Dalam kondisi yang demikian, AS masih juga mempersiapkan kekuatan militernya di Irak dengan mengaktifkan beberapa baterai rudal patriotnya di markas Ein al-Assad. Pastilah ini bukan kewaspadaan membantu Irak melawan virus, bukan juga tekad Trump menghancurkan Hasad al-Shaabi dan Kata’ib Hezbollah, paramiliter atau milisi pro Iran yang selama ini selalu mengusik posisi-posisi penting AS di Irak dengan roket-roket Katyusha, roket artileri buatan Rusia. 

Dominasi Iran di Timteng dengan semua kekuatan proksinya tak dapat diremehkan. AS, Israel dan Arab Saudi berada dalam jangkauan rudal-rudal Iran. AS sudah dipermalukan Iran dengan belasan rudal presisi yang menghantam dua markas AS di Irak. Tidak kurang dari 109 militer AS mengalami gegar otak. Trump dan seluruh jajarannya sangat terkejut menyadari dengan muka merah dan tak percaya pada kemampuan kemajuan militer Iran yang signifikan.

Itu adalah balasan Iran atas pembunuhan jenderal Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani oleh drone AS dekat bandara internasional Baghdad. Ayatollah Khamenei, pemimpin tertinggi Iran menyebutnya, baru “tamparan” saja buat AS, dan itu bukan balas dendam yang sesungguhnya.

Sebab jika AS mengulangi lagi tindakan brutalnya yang melanggar aturan dunia sebagaiman pembunuhan atas Qassem sebagai representasi salah satu petinggi negara tersebut, Iran tak akan segan-segan untuk menutup Selat Hormuz dan membakar seluruh fasilitas militer AS dan Israel di Timteng.