K.H. Hisyam, Saingi Belanda dengan Mendirikan Sekolah Muhammadiyah

0
51

Gerak Muhammadiyah itu lembut, sekaligus tegas dan tepat sasaran. Nilai itu ditanamkan K.H. Ahmad Dahlan sejak awal, bahkan tahun 1911 (setahun sebelum Muhammadiyah resmi berdiri) Kiai Dahlan sudah “melawan” hegemoni penjajah Belanda dalam dunia pendidikan. Langkahnya konkrit, mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah untuk mendidik kaum pribumi. Dalam perkembangannya lembaga pendidikan ini berubah menjadi Kweekschool Muhammadiyah setelah ia berkunjung ke Kweekschool Katolik di Muntilan.

Teologi Al Ma’un seperti itu benar-benar ditanamkan kepada para murid dan santrinya. Yaitu, praktik nyata di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya pandai bercakap dan menghapal, Bahwa rakyat memerlukan pertolongan, maka langkahnya adalah memberikan pertolongan dengan aksi nyata, tidak hanya berdiskusi di balik meja.

Kiai Haji Hisyam adalah salah satu murid Kiai Dahlan yang meneruskan pelajaran gurunya. Terlahir di Kauman, Yogyakarta, 10 November 1883 dan wafat pada 20 Mei 1945. Ia menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah 1934-1936. Abdi dalem ulama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini dipilih dan dikukuhkan sebagai ketua dalam Kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta 1934. Dipilih lagi dalam Kongres ke-24 di Banjarmasin 1935, dan kembali terpilih dalam Kongres ke-25 di Batavia (Jakarta) pada 1936. Kiai Hisyam adalah ketua ketiga, setelah Kiai Dahlan dan Kiai Ibrahim.

Tertib administrasi dan organisasi adalah hal paling menonjol dalam periode kepemimpinannya. Titik perhatian Muhammadiyah lebih banyak diarahkan pada masalah pendidikan dan pengajaran, baik pendidikan agama maupun umum. Hal ini tercermin dari pendidikan putra-putrinya di beberapa perguruan milik pemerintah. Dua putranya disekolahkan menjadi guru, saat itu disebut sebagai bevoegd yang akhirnya menjadi guru di HIS Met de Qur’an Muhammadiyah di Kudus dan Yogyakarta. Satu orang putranya menamatkan studi di Hogere Kweekschool di Purworejo, dan seorang lagi tamat di Europese Kweekschool Surabaya. Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah yang didirikan Pemerintah Kolonial Belanda untuk mendidik calon guru yang berwenang mengajar HIS Gubernemen.

Pendidikan pada periode kepemimpinan Kiai Hisyam mengalami perkembangan sangat pesat. Demikian halnya ketertiban administrasi dan organisasi pun semakin mantap. Sebelum sebagai ketua, Mbah Hisyam adalah Ketua Bahagian Sekolah (saat ini Majelis Pendidikan) Pengurus Besar Muhammadiyah.

Muhammadiyah membuka sekolah dasar tiga tahun (Volkschool atau sekolah desa) dengan menyamai persyaratan dan kurikulum Volkschool Gubernemen. Setelah itu, dibuka Vervolgschool Muhammadiyah sebagai lanjutannya. Maka bermunculan Volkschool dan Vervolgschool Muhammadiyah di Indonesia, terutama di Jawa.