Antara Puasa dengan Kecerdasan dan Kesehatan

Oleh: Labib Shalahuddin Alhaddad*

“…dan puasamu itu lebih baik jika kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 184)

Begitu besar manfaat puasa, baik jasmani maupun rohani. Berdampak positif dalam hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Dari jasmaniah, ada satu sisi yang tak mungkin kita bayangkan atau kita pikirkan, yaitu akal. Puasa berakibat positif.  

Nurul Maghfiroh menjelaskan dalam bukunya “99 fenomena menakjubkan dalam Al Qur’an” (2015: 240) Lukman hakim, yaitu seorang hamba yang memiliki keistimewaan, mendapat anugerah dari Allah SWT, berupa ilmu hikmah. Seorang alim dan bijak yang namanya tercantum dalam Al Qur’an berkata, “Wahai putraku bila perutmu penuh, pikiranmu akan tidur, kebijaksanaanmu akan kelu, dan anggota tubuhmu akan malas menjalankan ibadah”.

Serupa dengan yang disampaikan Syeikh Al-zarnuji (570-636 H). Dalam karyanya “Kitab Ta’lim Muta’allim”, bahwa para penuntut ilmu sudah seharusnya berpuasa, dengan berpuasa, otak akan terpacu untuk berkonsentrasi. Banyak makan akan menimbulkan dahak dan dahak akan memicu lemahnya hafalan. 

Kejeniusan ulama terdahulu juga dipengaruhi puasa. Ulama terdahulu terkenal waro’ dan zuhudnya, sehingga mampu menghasilkan karya yang masih digunakan sampai saat ini. Dalam sebuah kisah Imam As-Suyuthi mampu menyelesaikan separuh dari kitab Tafsir Jalalain yang belum sempat dirampungkan oleh gurunya Imam Al-Mahalli karena wafat. Imam As-Suyuthi merampungkan selama 40 hari dalam keadaan berpuasa. semenjak awal Ramadhan hingga 10 Syawwal.

Kita sering mendapati pelajar mengeluh lemas, capek lemah, letih, lesu, karena sekolah belum meliburkan kegiatan belajar mengajar pada bulan Ramadhan. Fakta membutikan bahwa puasa dapat menjadikan pikiran tenang dan jernih sehingga mempengaruhi tingkat kefokusan, kosentrasi pada pelajar.

Puasa yang dapat meningkatkan kecerdasan, memiliki mekanisme tersendiri pada tubuh. Sehingga dampaknya adalah menjadikan berfikir jernih dan cerdas. Mekanismenya adalah:

Pertama, perut kosong menyebabkan kosongnya zat-zat makanan dalam usus kecil. Sebagai gantinya, darah terpaksa menghisap zat-zat basah dalam usus. Orang yang mengalami keadaan tersebut pada umumnya mempunyai penglihatan yang tajam, gerak gerik cepat, serta kecakapan menganalisis persoalan.

Perlu kita ketahui bahwa kemampuan otak sangat dipengaruhi jumlah makanan yang masuk perut. Dengan mengendalikan makanan maka akan dapat meningkatkan kefokusan dan kosentrasi yang berarti meningkatkan kecerdasan. Sebaliknya, bila terlalu banyak makanan masuk kedalam perut, sel-sel akan kebanjiran makanan, urat saraf  lembab, kerja otak terhambat. Sehingga, dapat terjadi kemunduran dalam berfikir. Sesorang menjadi pelupa, tingkat kefokusan dan kosentrasi melemah dan sebagainya.