Si Pemurung dan Ahli Makrifat

0
338

Oleh: Robby H. Abror*

Langit cerah menggantung di atas bumi yang kembali tenang setelah sekian lama terpasung dalam kesibukan manusia. Kicau burung gereja terdengar lebih jernih. Pagi itu jari-jemari Pak Kyai Tauhid masih sibuk memutar tasbihnya. Pagi dan sore ia rutin mewiridkan kalimat thayyibah dan asmaul husna. Di atas kursi goyang di beranda rumahnya ia memandang jalanan yang lengang tak seperti biasanya. Tampaknya ia menikmati betul masa panjang isolasi ini. Tiba-tiba datang anak muda yang biasa dipanggil Habib, dikenal pemurung dan hobi merenung itu singgah ke rumah Pak Kyai. Sudah lama ia tak terlibat dialog dengan pemuka agama di desanya itu. Desa Panjunan, dikenal sebagai kampung santri, terletak di Selatan pinggiran Kota Metropolitan.

* * *

“Aku tak punya televisi apalagi telepon seluler. Aku hanya mendengar dari jamaahku tentang wabah yang sudah merenggut ratusan ribu jiwa meninggal dunia dan jutaan orang terinfeksi positif. Seusiaku yang sudah lebih dari enam puluh tiga tahun ini, seharusnya bisa aku syukuri lebih banyak lagi dengan beribadah kepada gusti Allah,” kata Pak Kyai yang usianya terpaut empat puluhan tahun dengan anak muda itu.

“Bukankah selama ini Pak Kyai sudah rajin ke Masjid? Aku khawatir kalau akan terjadi apa-apa dengan Pak Kyai dan warga di sini. Agama Hindu, Budha, Kristen, Khonghucu juga merelakan momen-momen penting keagamaan mereka untuk tidak meramaikan tempat-tempat ibadah. Kenapa kau tak hiraukan himbauan majelis ulama dan beberapa ormas Islam untuk tidak pergi ke tempat ibadah?” tanya anak muda itu dengan polosnya.

“Apa pedulimu menanyakan hal itu?”

“Tidak ada yang peduli kepada kita berdua. Kau seorang ahli ibadah, sedangkan aku hanya sibuk merangkai makna.”

“Sudahi saja racauanmu anak muda. Dunia ini penuh tipu daya.”

“Aku sudah menyadari kau akan bilang begitu. Apalah artinya aku bagimu? Tak memberi makna apapun selain menambah kebingunganmu. Ya kan?!”

“Begini anak muda, aku perlu menjelaskan sesuatu kepadamu atas kelancanganmu itu.”

“Maafkan aku Pak Kyai.”

“Kau tahu kan, orang-orang itu tiba-tiba saja jadi sok pintar dan fasih membicarakan tentang wabah virus Covid-19 ini. Sudah kayak professor dan dokter saja. Mereka melarangku untuk datang ke masjid sama seperti celotehanmu itu. Padahal aku lihat mereka juga nongkrong-nongkrong di jalan, di pasar, di banyak tempat lain. Apa itu namanya bukan berkumpul?”