Museum untuk Muhammadiyah: Menandai Hari Museum Internasional 2020

0
16

Oleh: Hj Widiyastuti, SS, M.Hum*

Setelah lebih dari satu abad perjalanan, Muhammadiyah telah menghasilkan banyak karya nyata bagi bangsa ini. Pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, kesetiakawanan dan yang paling penting keagamaan telah dimainkan oleh Muhammadiyah melalui amal usaha dan usaha amal yang tersebar di penjuru negeri ini.

Tak ada organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang memiliki karya nyata sebesar Muhammadiyah. Inilah yang menjadikan Muhammadiyah sebagai bagian dari perangkai puzzle sejarah perkembangan Indonesia.

Apa yang telah dilakukan dan dihasilkan oleh Muhammamdiyah sejak 1 abad yang lalu, jika tidak segera didokumentasikan secara sistematis dikhawatirkan akan menguap seiring pergantian zaman dan generasinya.

Untuk itulah, pendokumentasian sudah mulai harus dilakukan oleh Muhammadiyah. Dan museum merupakan wahana edukasi historis bagi masyarakat yang dipilih untuk menjadi salah satu media pendokumentasian puzzle-puzzle karya nyata Muhammadiyah.

Kaitannya dengan hal itu, perjalanan intelektual Ahmad Dahlan dan peran nyata Muhammadiyah perlu divisualisasikan dalam bentuk museum. Hal itu dalam rangka menjaga memori kolektif masyarakat akan sosok Ahmad Dahlan dan ide-ide yang digagasnya untuk memajukan masyarakat Indonesia, juga peran serta Muhammadiyah dalam membangun peradaban negeri ini.

Dari sebuah kampung yang jauh dari kata terkenal, muncullah pemikiran tentang Muhammadiyah yang di masa berikutnya menorehkan peran yang sangat besar di negeri ini.

Museum menjadi sebuah tools untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang apa, siapa dan bagaimana Muhammadiyah merajut sebuah titik penting dalam perjuangan dan perkembangan negeri ini. 

Muhammadiyah memiliki museum, mungkin masih ada yang mempertanyakan. Jangan-jangan nanti akan muncul pengkultusan terhadap sejarah masa lampau. Ingat, peristiwa Kyai Ibrahim yang memerintahkan untuk menurunkan gambar KHA Dahlan untuk menghindari pengkultusan karena memang itulah salah satu yang diperangi KHA Dahlan dan Muhammadiyah.

Barang-barang milik KHA Dahlan saja sudah sangat sedikit yang ditemukan. Karena hampir semua artefak yang menjadi jejak sejarah KHA Dahlan dilelang untuk keperluan Muhammadiyah. Dan kita selalu bingung kalau diminta untuk menunjukkan arsip-arsip penting yang kita miliki.

Bangunan-bangunan bersejarah pun sudah hilang satu persatu. Gedung bioskop Kranggan di Surabaya, Jawa Timur, yang menjadi saksi Kongres Muhammadiyah (1926) dan menampilkan seorang perempuan sebagai pemimpin sidang, saat ini sudah berubah menjadi mall.