Semangat 103 Tahun ‘Aisyiyah, Membangun Budaya Baru Indonesia

0
130

Oleh: Widiyastuti, S.S., M.Hum.*)

Pemahaman kesehatan bagi masyarakat itu sangat penting agar diguncang dengan kebijakan pemerintah seperti apapun masyarakat tetap kuat dan dapat bertahan

Tulisan ini muncul karena kegelisahan atas apa yang terjadi saat ini. Narasi yang berkembang di media sosial, kebijakan pemerintah yang muncul di luar ekspektasi banyak orang. Laporan pandangan mata atas kerumunan yang terjadi, kurva corona yang masih jauh dari kata landai, kondisi tetangga mulai banyak yang terpapar secara ekonomi. Pertanyaan yang tak bisa terjawab: kapan semuanya berakhir. Dan, begitu banyak kenyataan di depan mata yang membuat kepala pusing antara mangkel, gemes, bingung, marah, takut. Semuanya campur aduk atau dalam bahasa Didi Kempot .. AMBYAR. Tentu saja saya tidak ingin pusing sendiri atau terjebak dalam kegalauan tanpa ujung ini. Harus ada ikhtiar yang dilakukan, minimal untuk diri sendiri. Syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain.

Beberapa saat yang lalu kita dihebohkan dengan statement Bapak Presiden soal berdamai dengan corona. Hampir semua bergolak, para relawan, para nakes semua berteriak sehingga muncullah tagline Indonesia Terserah. Sebuah tagline yang kalau dibiarkan akan sangat berbahaya karena menanamkan keacuhan dan keabaian terhadap kondisi yang saat ini ada. Tentu saja bagi Muhammadiyah yang saat ini mengerahkan segenap asetnya merasa dicederai dengan statement ini. Seolah mengabaikan nyawa manusia untuk kepentingan ekonomi. Namun di satu sisi, kenyataan di masyarakat membuat kita harus berpikir tentang formula yang tepat selain berdamai. Masih ada masyarakat yang harus masuk kerja karena kewajiban, ada yang tidak bisa makan jika tidak keluar rumah, ada yang merasa hebat dan kebal sehingga tetap melaksanakan ibadah di rumah ibadah, ada juga yang karena rasa budayanya memutuskan untuk bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain. Lupakan pertentangan antara mudik dan pulang kampung. Ada persoalan budaya yang dilupakan dalam membuat kebijakan bahkan dari sisi redaksionalnya. Tapi inilah yang kita hadapi. Frustasi? Sedikit. Tapi kita tidak boleh putus asa. Apalagi Muhammadiyah dengan segala komponennya, ‘Aisyiyah dan ortomnya, yang secara terpadu dan mandiri melakukan ta’awun terhadap negeri ini. Bukan meminta namun memberi. Semangat ini yang tidak boleh dan tidak akan surut apapun kebijakan pemerintah dan keadaan yang kadang tidak sesuai dengan protokolnya. Keadaan jelang lebaran ini semakin memperumit persoalan sehingga ada kekhawatiran munculnya gelombang kedua pandemi ini. Apalagi tampaknya pemerintah mulai menerapkan prinsip “mengatur informasi” dalam kasus corona ini.

Melihat keadaan saat ini tampaknya pilihan untuk bisa beradaptasi dengan keadaan, beradaptasi dengan lingkungan yang sudah terpapar dengan virus corona yang entah kapan baru bisa ditemukan vaksinnya. Adaptasi tidak sama dengan berdamai. Adaptasi adalah sebuah upaya untuk mengatasi tekanan lingkungan untuk bertahan hidup. Lingkungan kita yang saat ini terpapar virus corona harus kita atasi untuk kita bisa bertahan hidup. Menyerah? Bukan. Karena ini adalah bentuk perlawanan yang kita lakukan untuk mengatasi berbagai tekanan yang ada. Tekanan lingkungan, tekanan sosial, tekanan ekonomi yang tentu saja akan berdampak terhadap hidup kita. Apakah ini sama artinya kita mengabaikan jasa para garda depan yang selama ini berjibaku mengatasi pandemi ini? Tidak juga. Justru ini adalah upaya nyata dari kita untuk bisa menekan kuantitas manusia yang terpapar virus dengan tetap bisa bertahan hidup. Sulit? Sebenarnya tidak. Namun butuh komitmen kuat untuk bisa menjalaninya.