Ada Loh, yang Tulus Mencintai Muhammadiyah

Oleh: Prayudha*

Pandemi memaksa saya tinggal di kampung. Awalnya, sembari work from home, saya berniat menemani istri yang akan melahirkan. Kondisi yang belum jelas menghalangi saya kembali ke Jogja.  Kegiatan mengajar dan administrasi saya lakukan total secara daring dari kampung saya di Cilacap, Jawa Tengah.

Sembari menyelesaikan tugas dari kampus tempat saya mengajar, saya membantu mertua berjualan pupuk dan obat pertanian. Ini karena saya numpang makan dan tidur di tempat mertua. Menantu macam apa coba kalau saya hanya leyeh-leyeh sambil “mantengin” layar laptop.

Kampung istri saya yang tepatnya berada di Cimanggu, secara geografis terdapat di Cilacap Barat. Karena merupakan wilayah perbatasan dengan Jawa Barat, penduduk di wilayah ini setengahnya berbahasa Jawa, setengah lagi penutur Sunda. Pelanggan di kios pertanian kami sebagian besar adalah penutur Sunda.

Suatu hari, datang pembeli berumur 60-an tahun. Awalnya dia menanyakan obat pertanian dengan bahasa Sunda. Karena melihat saya nervous dan gagap, ia switch menggunakan bahasa Indonesia. Meski berkostum casual ala-ala penjaga kios, aura priyayi saya mungkin masih tampak. Dia lantas menanyakan siapa dan asal saya. “Oh, mantune Pak Haji. Kulo nggih langganane Pak Haji sampun dangu mas,” jawab bapak tersebut menggunakan bahasa Jawa.

Obrolan kami selanjutnya menggunakan bahasa Jawa. Setelah tahu jika saya mengajar di Universitas Ahmad Dahlan, ia tampak lebih bersemangat. “Dosen UAD nggeh mesti ‘M’ nggeh mas?” ujar sosok yang kemudian saya kenal dengan nama Haji Jauhari tersebut. “Oh kedah Pak. Dosen UAD ya mesti Muhammadiyah dong. Harus!” jawab saya sembari berkelakar.