Ketika Manusia Abai

Oleh: Cristoffer Veron P*)

COVID-19 benar-benar telah mengubah peta kehidupan. Semua merasakan dampaknya. Baik di bidang kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lainnya. Kecepatan virus yang menyebar laksana kilatan petir, membuat sulit dikendalikan. Sebuah benda kecil dan asfal, ternyata memiliki kekuatan sangat berbahaya lebih durjana dari para penjajah pada masa kolonialisme Belanda dan Jepang pada waktu itu.

Kalau kita melihat literatur sejarah, pada masa penjajahan seluruh masyarakat pribumi dipaksa bekerja tanpa henti, tidak diberi imbalan, dan dilarang makan. Banyak nyawa melayang atas kebiadaban para imperialis tersebyt. Mereka hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Semua wajib mematuhi seruan penjajah. Di kala itu, semua kehidupan dipegang dan dikuasai penjajah. Sedikit saja melanggar, nyawa menjadi taruhan.

Sama halnya dengan paradigma kehidupan sekarang. Orang banyak melanggar segala protokol kesehatan baik dari pemerintah pusat maupun dari ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama. Orang yang melanggar protokol kesehatan, boleh jadi dia terkena virus dari kawan atau ketika berinteraksi dengan orang lain, yang proses penyebarannya begitu cepat. Ketika kita menegur orang lain yang salah, di saat itu orang yang ditegur pasti ngrasani dengan anggapan sok-sokan ngatur wong, rung mesti awakmu ki wes pener.