Hibah KemenristekBRIN, MPMAT UAD Yogyakarta Adakan Pelatihan Pengembangan SSP Berbasis LMS

YOGYAKARTA — Dalam rangka implementasi hibah pengabdian skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2020 yang diusulkan Dr Suparman, M.Si, DEA (Dosen Program Studi Magister Pendidikan Matematika UAD) sebagai Ketua Pengusul Hibah dan Iwan Hartadi Tri Untoro, M.Kom (Dosen Sistem Informasi UTY) sebagai anggota tim hibah dilaksanakan pelatihan “Pengembangan Subject Spesific Pedadogy (SSP) Berbasis Learning Management System (LMS)” pada Senin (3/8/2020).

Pelatihan yang diikuti 25 orang guru Matematika SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman itu

dilaksanakan selama 6 hari pada 3-8 Agustus 2020 pukul 08.00-17.00 WIB secara daring menggunakan Edmodo, Zoom Meeting dan WhatsApp (WA) Group bertempat di UAD Yogyakarta dan sekolah mitra masing-masing.

Kegiatan yang diselenggarakan bermitra dengan Majelis Dikdasmen PDM Sleman didampingi Dr Andriyani, M.Si sebagai fasilitator pelatihan serta Anggit Prabowo, M.Pd yang juga sebagai fasilitator pelatihan.

Ketua Majelis Dikdasmen PDM Sleman, Dr H Suwardi, MAg, MPd, ketika membuka kegiatan itu mengatakan, masa pandemi Covid-19 ini untuk pelatihan sangat berguna. Dan, guru harus menjadi perantara kebaikan sesuai QS An Nisa ayat 85.

Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Sleman mengapresiasi yang telah dilakukan Dr Suparman, M.Si, DEA dalam kerjasama kali kedua untuk peningkatan kualitas guru Matematika SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman.

“Saya berharap semua guru-guru yang ikut pelatihan ini bisa meningkatkan mutu sekolah Muhammadiyah,” kata Suwadi, yang juga sampaikan beberapa hal untuk memotivasi guru-guru dalam melaksanakan tugas pokoknya dengan benar.

Dikatakan Suwadi, sikap seorang Muslim dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini dengan tawakal, ikhtiar dan tidak mengeluh. “Untuk itu perlu adanya transformasi kemampuan guru dalam menuju perubahan-perubahan,” katanya.

Menurutnya, Covid-19 telah mengubah zona nyaman. Dan bahaya berada di zona nyaman ini adalah menghalangi pertumbuhan, membawa pada kesulitan, menyebabkan kebosanan dan ketidakpuasan, memicu pola pikir negatif, menyebabkan kurangnya semangat dan tujuan. “Juga membuat kita kehilangan kesempatan,” papar Suwadi.

Dikatakannya, tugas guru di era Covid-19 ini untuk ciptakan hal-hal baru, dibentuk ulang pembelajaran dengan dukungan IT, mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat. “Selain juga membangun kapasitas guru Muhammadiyah dengan lompatan, kecepatan dan kejutan,” tandasnya.