Kauman, Kampung Perjuangan Bangsa

Oleh: Widyastuti, S.S., M.Hum.*)

APA keistimewaan Kampung Kauman, Yogyakarta? Inilah catatan Widyastuti, salah seorang yang dilahirkan dan dibesarkan di kampung tersebut. Catatan ini terkait dengan bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan bertujuan mengenang semangat perjuangan anak bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kauman adalah kampung kecil di tengah kota merupakan salah satu tempat cukup penting dalam perjuangan bangsa.

Pertama, tempat lahirnya Muhammadiyah. Muhammad Darwis yang kemudian dikenal dengan nama KHA Dahlan memperjuangkan pembaharuan untuk kemajuan bangsa diawali dari sini. Muhammadiyah berawal dari Langgar Kidul, berkembang dari Masjid Gedhe Kauman. Hal itu menjadi bukti bahwa dari kampung kecil bisa muncul gagasan besar, bukan hanya skala nasional namun mendunia. Jejak masif Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari Kampung Kauman.

Kedua, dikenal sebagaikampung santri atau kaum ulama yang disematkan dalam namanya serta keberadaan Masjid Gedhe Kauman sebagai Masjid Jami’ Kasultanan Yogyakarta juga merupakan keadaan yang tidak ditemukan di tempat lain di kota ini. Kauman adalah nama kampung dalam tata kota Jawa yang memiliki ketugasan khusus dalam bidang kerajaan di sebuah kerajaan Jawa. Oleh karena itu di Kampung Kauman terdapat lebih dari 5 (lima) langgar selain Masjid Gedhe dan Musholla ‘Aisyiyah sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Ketiga, peran kebangsaan. Banyak tokoh bangsa dilahirkan dan memperoleh semangat jihad di sini. Di salah satu sudut kampung berdiri Monumen Syuhada yang mencantumkan 25 nama anak muda Kauman yang gugur dalam beberapa pertempuran saat masa-masa mempertahankan kemerdekaan. Banyak juga tokoh kebangsaan yang lahir maupun beraktivitas di kampung ini. Inilah yang menjadikan Kauman layak menyandang sebagai Kampung Perjuangan Bangsa.

Anak muda Kauman sangat dikenal dengan keberaniannya. Pada usia belasan tahun mereka tidak mengenal takut untuk berjuang dari satu pertempuran ke pertempuran lain. Sebanyak 25 syuhada yang tercantum dalam Monumen Syuhada semuanya gugur dalam beberapa pertempuran, salah satunya Serbuan Kotabaru 7 Oktober 1945 untuk mengusir tentara Jepang yang masih bercokol di Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Serbuan ini melibatkan rakyat dan tentara yang berjibaku menyerang Kotabaru.

Dari 25 nama tadi 4 syuhada gugur dalam Serbuan Kotabaru, di antaranya adalah Abu Bakar Alie dan Wardhani. Pertempuran ini terjadi di seputaran Kotabaru yang menjadi semacam pusat pemukiman orang Jepang di masa pendudukan. Abu Bakar Alie dan Wardhani dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman. Nama Abu Bakar Ali dan Wardhani sekarang dijadikan nama jalan di kawasan Kotabaru.

Ada juga nama Ahmad Dahlan (cucu KHA Dahlan) yang gugur dalam pertempuran di Srondol, Semarang pada 4 Juli 1946. Ahmad Dahlan tergabung dalam Pasukan Hizbullah Yogyakarta yang dikerahkan ke Semarang untuk menahan serbuah NICA yang ingin kembali menguasai Indonesia. Ahmad Dahlan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman bersama teman-teman seperjuangan yang mendahuluinya dalam Serbuah Kotabaru.