Kawasan Tanpa Rokok Mulai Diterapkan di Kota Yogyakarta

YOGYAKARTA — Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bekerjasama dengan The Union dan Muhammadiyah Steps Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan workshop sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) bagi pemilik kafe dan restoran di wilayah Kota Yogyakarta pada 29 September 2020.

Pada kesempatan kali ini drg Emma Rahmi Aryani, MM (Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta), Drs ST Totok Suryonoto, MSi (Kepala Seksi Satpol PP Kota Yogyakarta), Krismono Adjie, S.Pd, M.Pd (Kepala Seksi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta) dan Agung Priyono (HRD Manager Waroeng Steak) sampaikan paparannya di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Terungkap, Perda KTR sudah mulai diterapkan di Kota Yogyakarta sejak tahun 2018.

Restoran dan kafe termasuk tempat umum yang dapat diakses masyarakat dan tempat yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat.

Perda ini memberikan kewajiban kepada pengelola/pemilik usaha untuk memasang papan pengumuman KTR dengan memuat tanda larangan merokok, larangan mengiklankan produk rokok dan larangan menjual produk rokok, tidak menyediakan asbak, melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan KTR, memasang tanda, tulisan dan/atau gambar tentang bahaya rokok, serta melakukan pengawasan pada tempat dan/atau lokasi yang menjadi tanggung jawabnya serta melaporkan hasil pengawasan kepada perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan setiap 6 bulan.

Disampaikan Totok Suryonoto dari Satpol PP Kota Yogyakarta, mekanisme penerapan Perda KTR dapat mendatangkan manfaat bagi pengunjung. “Terutama yang tidak merokok,” kata Totok.

Pandemi Covid-19 dapat menjadi momen pengusaha untuk dapat maksimal dalam penerapan Perda KTR. Dan aktivitas merokok memiliki hubungan erat dengan kejadian Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyampaikan, perokok memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena virus Covid-19. “Karena merokok menekan fungsi sistem imun yang memicu peradangan saluran nafas,” terang drg Emma Rahmi Aryani, MM.