Sejarah Salat Idul Fitri Muhammadiyah di Lapangan

Yunus Anis masih memakai tentara ketika mengimami salat 'Ied di Alun-alun Utara Jogja Tahun 1957 (Foto: DOk. H.M. Yunus Anis

Oleh: Mu’arif*

Salah satu “identitas” Muhammadiyah adalah salat Idul Fitri di lapangan, sekaligus juga membedakan dengan NU, yang memilih salat di masjid. Sejak kapan Muhammadiyah mempraktikkan penyelenggaraan salat Id di tanah lapangan, di tanah terbuka? Atas ijtihad siapa?

Memang sulit untuk menjawab pertanyaan di atas. Tapi baiklah, saya akan mencoba membahasnya dalam tulisan pendek ini. Semoga saja ada manfaatnya.

Penentuan hilal Ramadan maupun Idul Fitri dan Idul Adha menggunakan metode hisab merupakan tradisi praktik keagamaan peninggalan KH. Ahmad Dahlan, pendiri dan President pertama Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah. Tetapi, praktik penyelenggaraan salat Id di lapangan yang sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah hingga kini tidak ditemukan dalam rekam jejak kepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan.

Sesulit apapun pertanyaan ini tentu tersedia jawabannya, sekalipun mungkin masih perlu diverifikasi kembali. Hasil penelusuran beberapa dokumentasi Muhammadiyah periode awal memang tidak menemukan indikasi, apalagi bukti, bahwa praktik penyelenggaraan Salat Id di tanah lapangan pada masa Kiai Ahmad Dahlan, tetapi pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim.