Mengatasi Covid-19, Harusnya Tidak Berkutat pada Mengubah Istilah

Apakah publik akan mudah mengganti istilah ODP, PDP, dan OTG? Jujur saja, istilah tersebut telanjur populer dan lebih simple karena berupa singkatan yang hanya terdiri dari tiga (3) huruf. Sehingga, mudah diingat dibandingkan kontak erat, kasus suspek, dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik). Bukan tidak mungkin, istilah ODP, PDP, dan OTG akan bertahan lama, khususnya di kalangan grass root.

Sebenarnya, ada hal lebih urgen yang bisa dilakukan Menteri Kesehatan dibandingkan sekadar mengeluarkan keputusan mengganti istilah tadi. Pandemi ini muaranya adalah penyebaran virus Corona. Dampaknya memang sudah luar biasa kemana-mana, tapi ujung-ujungnya adalah masalah kesehatan, sehingga peran Menteri Kesehatan harus dominan disini.

Anggaran luar biasa besar yang dirancang pemerintah harus dimaksimalkan kemanfaatannya untuk mengatasi Covid-19, dari pada sekadar mengubah-ubah istilah. Angka Rp 905, 10 trilyun seperti diberitakan merdeka.com 19 Juni 2020 disebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai jumlah yang dibutuhkan untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Jumlah tersebut merangkak naik dari rencana awal Rp 405,1 trilyun, kemudian berubah menjadi Rp 677,2 trilyun, dan kemudian naik menjadi Rp 695,2 trilyun. Jika Rp 905 trlyun dibagi rata ke seluruh penduduk Indonesia (misalnya 250 juta manusia), maka tiap penduduk mendapatkan Rp 3.620.000 (tiga juta enam ratus dua puluh ribu rupiah). Anggap saja yang Rp 0,1 trilyun sebagai biaya operasional dan adminsitrasi. (*)


*)Tim Redaksi mediamu.id dan anggota MPI PWM DIY