UAD Yogyakarta ke Depan Menjadi Perguruan Tinggi Terkemuka

Dijelaskannya, indeks pencapaian target penelitian dan pengabdian yang mencakup parameter-parameter antara lain: jumlah penelitian dan PPM dosen, klaster penelitian dan PPM, jumlah artikel pada jurnal internasional bereputasi, jumlah hak kekayaan intelektual yang didaftarkan, jumlah jurnal ilmiah terindeks Sinta, dan jumlah produk inovasi per tahun, perlu terus ditingkatkan.

Langkah ini, menurutnya, perlu mendapat perhatian serius karena parameter-parameter tersebut menjadi bagian dari penilaian kinerja lembaga di tingkat unit (fakultas dan program studi) dan agregat dari seluruh penilaian di tingkat universitas.

Pada kesempatan itu, Muchlas mendorong dosen agar arah risetnya menuju hilirisasi produk perlu terus diupayakan.

“Pada level tatakelola, kebijakan-kebijakan terbaru dari kementerian pendidikan dan kebudayaan seperti merdeka belajar, kredit trasfer, dan pembelajaran jarak jauh juga harus direspon secara cepat dan tepat,” terangnya.

Kinerja dosen dalam proses pembelajaran, dikatakan Muchlas, juga harus terus dipantau untuk keperluan evaluasi dan tindak lanjut perbaikan.

Bagi Muchlas, model-model pembelajaran inovatif terkini, kurikulum yang fleksibel dan adaptif, materi-materi mata kuliah institusional yang mendukung visi dan core values universitas, dan pembinaan bahasa asing perlu diterus dikembangkan.

“Selain itu tatakelola, pendokumentasian dan layanan kegiatan akademik yang selama ini sudah berlangsung baik, perlu terus ditingkatkan untuk memberikan kepuasan kepada stakeholders kita,” ujar Muchlas.

Berkaitan hal itu, Muchlas berharap agar target-taget rekruitmen mahasiswa per tahun juga perlu terus diupayakan dengan berbagai skema yang ada. “Dan terpenuhi sesuai perencanaan,” tandasnya.

Pengembangan perpustakaan modern yang selama ini sudah dirintis, dikatakan Muchlas, perlu terus diupayakan agar perpustakaan menjadi sarana sumber belajar yang mudah diakses dan sekaligus mampu menyediakan semua kebutuhan eksplorasi keilmuan yang diperlukan bagi mahasiswa dan dosen.

Ditambahkan Muchlas, orientasi pengembangan SDM perlu dijaga agar selalu on the right track menghasilkan riset yang dapat menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi bangsa. “Track yang telah dilalui, yakni dosen sebagai agen pembelajaran, agen riset, agen budaya dan agen transfer iptek, perlu diteruskan dengan menelusuri track baru sebagai agen pengembangan ekonomi berbasis iptek,” kata Muchlas.

Untuk mendukung upaya ini, Muchlas berharap SDM UAD Yogyakarta perlu terus didorong agar produk riset yang dilakukan mencapai level hilir atau level puncak dalam konteks Technology Readiness Level.

Selain itu, peningkatan kualifikasi dan kompetensi SDM UAD perlu menjadi prioritas pengembangan melalui berbagai program seperti akselerasi lektor kepala dan profesor.

“Sebagai autokritik, indeks progresivitas pengembangan SDM UAD saat ini masih belum memenuhi target yang diinginkan,” jelas Muchlas.

Oleh sebab itu, mulai tahun 2020 ini dilakukan langkah-langkah strategis pengembangan SDM UAD yang meliputi peningkatan jumlah dosen berpendidikan S3, jumlah dosen dalam jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar, jumlah dosen bersertifikasi pendidik, dan perbaikan rasio mahasiswa terhadap dosen.

“Kemajuan-kemajuan yang akan kita upayakan tentu tidak akan bermakna secara internal jika tidak memberikan dampak peningkatan kesejahteraan bagi warga UAD,” papar Muchlas.

Oleh sebab itu, usaha-usaha untuk menjaga ketahanan finansial menjadi prioritas utama di tengah dinamika finansial UAD yang sangat tinggi di era sekarang, khususnya era pandemi Covid-19 ini.

Kata Muchlas, beban finansial untuk kemajuan institusi yang sudah menjadi komitmen kita, perlu kita kawal bersama. “Sehingga dapat diciptakan suatu suasana akademik yang konstruktif dan produktif,” kata Muchlas.