MPI, Punya Peran Penting Meski Pernah Hilang dari Struktur

YOGYAKARTA — Bagi persyarikatan yang didirikan tahun 1912, nama Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) bisa disebut sebagai anak muda dibandingkan majelis atau lembaga lain dalam struktur Muhammadiyah. Pernah muncul dengan nama Majelis Pustaka tapi hanya sampai tahun 1995.

Nama ini sempat tidak muncul dalam struktur selama 10 tahun, kemudian muncul lagi tahun 2005 tapi “turun status” sebagai Lembaga Pustaka dan Informasi (LPI). Hasil Muktamar 1 Abad Muhammadiyah tahun 2010 mengubah nama LPI menjadi MPI (Majelis Pustaka dan Informasi), dikuatkan lagi dalam Muktamar di Makassar tahun 2015.

“Posisi MPI sangat strategis yakni untuk penguatan literasi, teknologi informasi, dan media di persyarikatan,” jelas Wiwied Widyastuti, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, kepada mediamu.id, Kamis (7/1).

Merunut sejarah, nama Pustaka sudah muncul dalam struktur Pengurus Besar Muhammadiyak sejak 1920, atau ketika persyarikatan baru berumur 8 tahun. Ketika itu bernama Bahagian Taman Pustaka.

Seperti ditulis dalam website mpi.muhammadiyah.or.id, “Tanggal 17 malam 18 Juni 1920, berlangsung rapat anggota Muhammadiyah Istimewa, dipimpin sendiri oleh Yang Mulia K.H Ahmad Dahlan. Rapat malam itu adalah pengesahan dan pelantikan pimpinan Bahagian dalam Hoofd Bestuur (baca: hof bestir) Muhammadiyah.”

Ada empat bagian yang diputuskan malam itu, yaitu:

  • Pertama: Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Sekolahan, ketua: H.M. Hisyam;
  • Kedua: Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Tabligh, ketua: H.M. Fakhrudin;
  • Ketiga: Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem, ketua: H.M. Sjoedja’;
  • Keempat: Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Taman Pustaka, ketua: H.M. Mokhtar.

Sebelum pelantikan, tulis website itu, para Ketua Bahagian yang akan dilantik diminta kesetiaannya, akan sampai kemana memimpin usaha Bahagiannya. “Masing-masing ketua bahagian menyampaikan pernyataan cita-citanya.”

Khusus Taman Pustaka, H.M.  Mokhtar dengan tegas mengatakan: