Tirai Pemikiran 3: Wahdatul Wujud

Oleh: Robby H. Abror *)

Wujud bentuk masdar dari wajada dan wujida, yang berarti menemukan dan ditemukan. Istilah wujud sering diterjemahkan sebagai being atau existence, yakni ada. Meskipun padanan kata itu dianggap belum memadai untuk menggantikan istilah wujud. Wujud dalam konteks ini yang dimaksudkan adalah wujud Tuhan sebagai realitas absolut dan mutlak. Dalam diskursus tasawuf, mereka yang menemukan Tuhan dalam alam dan dalam diri mereka sendiri disebut sebagai ahlu al-kasyf, yakni mereka yang menyingkapkan dan menemukan Tuhan. Wujud secara praksis adalah syuhud, yakni tindakan menyaksikan dan juga merenungkan.

Wahdat al-wujud istilah yang diidentikkan dengan nama besar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi, meskipun tidak ditemukan penyebutannya dalam berbagai karyanya. Di Barat orang menyebutnya dengan banyak nama, seperti: monisme, panteisme, panenteisme, monisme ontologis, monisme panteistik, monisme eksistensial, mistisisme natural, dan sebagainya. Semuanya tidak memadai untuk disepadankan dengan istilah wahdatul wujud. Wahdatul wujud adalah doktrin tentang transendensi Tuhan yang dipelihara dalam diskursus teoretik dan amali dalam tasawuf atau irfan.

Wujud Tuhan adalah satu-satunya wujud, sehingga tidak ada wujud selain wujud-Nya. Selain Tuhan, apapun itu tidak mempunyai wujud. Jika wujud hanya milik Tuhan, maka alam ini tidak lain adalah “pinjaman” dari wujud Tuhan. Matahari dengan sinar cahayanya yang menerangi bumi adalah “pinjaman” bagi penghuninya. Semua akan kembali kepada pemiliknya. Jika ketiadaan (‘adam) adalah kegelapan, maka cahaya (nur) itulah wujud yang paling nyata.

Dalam Hadis Qudsi atau yang dikenal sebagai Hadis Tajalli, Allah berfirman, “Aku adalah harta simpanan tersembunyi (kanz makhfi) karena itu Aku rindu untuk dikenal. Maka Aku ciptakan makhluk, sehingga melalui-Ku mereka mengenal-Ku.”Segala sesuatu yang tampak di alam ini hanya terdiri dari dua hal penting, yaitu: al-Haqq, yakni realitas absolut atau yang mutlak, yaitu Tuhan, dan al-khalq yaitu semua ciptaan-Nya yang serba relatif. Ciptaan (al-khalq) adalah cermin bagi Tuhan (al-Haqq) dan al-Haqq adalah cermin bagi al-khalq. Tuhan menciptakan alam, karena Tuhan ingin melihat diri-Nya. Tujuan penciptaan alam bukan hanya untuk melihat diri-Nya semata, tetapi juga untuk memperlihatkan diri-Nya. Tuhan ingin memperkenalkan diri-Nya lewat alam. Alam adalah penampakan diri (tajalli) al-Haqq. Tajalli adalah proses penampakan diri al-Haqq. Segala sesuatu dan peristiwa yang terjadi di alam ini adalah penampakan diri atau entifikasi (ta’ayyun) al-Haqq. Tuhan dan alam hanya dapat dipahami melalui kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi ontologis (coincidentia oppositorum), seperti konsep yang tampak (al-dhahir) dan yang batin (al-batin), yang awal (al-awwal) dan yang akhir (al-akhir), transenden (tanzih) dan imanen (tasybih), dan seterusnya.