Bersyukurlah Masih Bisa Membaui Kentut

YOGYAKARTA — Seiring dengan virus Corona yang menyebar di Indonesia sejak awal tahun 2020, nama dokter Corona Rintawan, Sp. EM., pun sangat dikenal masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah. Selain ada kesamaan nama antara dokter dan virus yang ditangani, sejak Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dibentuk PP Muhammadiyah 5 Maret 2020, pria kelahiran Surabaya 1 Januari 1975 diamanti sebagai ketuanya.

Tapi bukan karena kesamaan nama menyebabkan lulusan Universitas Brawijaya ini diamanati sebagai Ketua MCCC PP, dokter Corona adalah spesialis kegawatdaruratan dari RS Muhammadiyah Lamongan dan menjadi Emergency Medical Team Muhammadiyah untuk misi Internasional. Pada pertengahan April 2021 ia ditarik ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai staf khusus, sehingga pos Ketua MCCC PP berpindah ke Agus Samsudin sampai sekarang.

Pembawaan tenang dan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas menyebabkan dokter Corona seperti menjadi public figure. Di antaranya dalam Pesantren Covid-18/Muhammadiyah With You yang diselenggarakan PWM DIY, Sabtu (9/1) malam. Dari sekitar 70 peserta, lebih dari 10 yang mengajukan pertanyaan, sebagian besar perempuan.

“Sekarang orang bisa membaui kentut saja bersyukur luar biasa. Senang. Nikmat yang luar biasa Itu kan sangat berbeda dengan sebelum ada virus Corona,” katanya. Sebelumnya ia menyebutkan salah satu ciri orang terkena virus adalah hilangnya fungsi indra penciuman dan pengecap sehingga tidak bisa membaui dan merasakan.

Jika hal itu terjadi pada seseorang, tambahnya, harus sesegera mungkin melakukan swab test. Karena orang dengan tanda-tanda seperti itu biasanya 90 persen positif Covid-19.

“Tapi kadang-kadang orang kena virus ini tanpa tanda-tanda yang diketahui dari luar. Ada beberapa yang pagi hari masih ngobrol santai, sorenya meninggal dunia karena covid,” jelas Corona.