Angkat Topik Neurosains Pendidikan Islam, Suyadi Dikukuhkan sebagai Guru Besar

YOGYA – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menambah jumlah guru besarnya. Dr. Suyadi, S.Pd.I., M.Pd.I., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan dalam Sidang Senat Terbuka pada Senin (25 Shafar 1445 H bertepatan 11 September 2023) di Amphiteater Gedung Fakultas Kedokteran UAD.

 

Pada prosesi pengukuhan ini, Suyadi menyampaikan pidato ilmiahnya yang berjudul “Neurosains Pendidikan Islam: From Neuron to Nation“. Dalam pidatonya, ia memaparkan Neurosains Pendidikan Islam (NPI) memiliki peluang untuk berkembang pesat menjadi cabang ilmu baru sebagaimana cabang-cabang ilmu yang sudah ada.

 

“Secara umum, NPI dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari otak sehat untuk pencerdasan,” ujar Suyadi.

 

Apalagi, dalam bidang pendidikan termasuk pendidikan islam, neurosains merupakan keniscayaan sebagaimana kajian akal dan otak dalam Al-Qur’an. Selain itu, kajian tentang pendidikan Islam dan neurosains dapat ditempatkan sebagai spesialisasi atau keberlanjutan dari Islamisasi ilmu oleh lsmail Raji al-Faruqi dan Syed Naquib al-Attas, Intelektualisme lslam oleh Fazlur Rahman, Pengilmuan Islam oleh Kuntowijoyo, Integrasi-interkoneksi oleh M. Amin Abdullah, hingga ayat-ayat Semesta oleh Agus Purwanto.

 

Mengingat pola- pola hubungan tersebut sejauh ini belum mengerucut pada bidang

ilmu tertentu yang lebih spesifik, maka Suyadi menggunakan pendekatan hibridisasi untuk menghasilkan varietas cabang ilmu baru hasil penyilangan antara pendidikan Islam dan neurosains. Hasil dari hibridisasi pendidikan lslam dan neurosains ini ia sebut dengan istilah Neurosains Pendidikan Islam (NPI).

 

Kemudian, Suyadi mengaitkannya dengan perspektif Risalah Islam

Berkemajuan (RIB), yang mana NPI

sejalan dengan spirit menghidupkan

ijtihad dan tajdid. Di samping itu, tentu juga berlandaskan pada tauhid,

bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah menyebarluaskan wasathiyah, dan menebar rahmat bagi semesta.

 

Hibridisasi pendidikan Islam dan

neurosains juga sejalan dengan manhaj Islam berkemajuan, khususnya dalam hal

pendekatan yang digunakan, yakni

bayani, burhani dan irfani serta

memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih dari itu, NPI juga

mengadaptasi pendekatan interdisiplin, multidisiplin dan transdisiplin.

 

Artinya, NPl merupakan ikhtiar membumikan RIB dalam konteks pendidikan Islam berkemajuan. Atas dasar ini, NPI memiliki peluang untuk berkembang pesat menjadi cabang ilmu baru sebagaimana cabang-cabang ilmu yang telah ada, seperti Filsafat

Pendidikan Islam, Psikologi Pendidikan lslam, Sosiologi Pendidikan

Islam, Antropologi Pendidikan Islam, demikian pula dengan Neurosains Pendidikan Islam (NPI).

 

Objek kajian NPl mencakup empat dimensi, yakni normatif teologis, filosofis teoretis, saintifik empiris, dan stimulasi edukatif pada ranah implementatif. Kajian NPI yang bersifat normatif teologis mengacu tafsir ayat-ayat neurosains. Sedangkan kajian yang bersifat filosofis

dan teoritis dikembangkan dari konsep akal bertingkat lbnu Sina.

 

“Secara umum, NPI dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari otak sehat untuk pencerdasan. Definisi operasional ini berbeda dengan neurologi yang cenderung fokus mempelajari

(mengobati) otak sakit untuk penyembuhan,” jelas Suyadi.

 

Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu memastikan otak peserta didik sehat, tidak sekadar normal. Jika hal ini dapat diwujudkan maka kualitas

kecerdasan otak manusia semakin meningkat dan dengan demikian

kehidupan bangsa semakin maju.

 

“Atas dasar ini, Neurosains Pendidikan lslam menjadi jawaban atas rendahnya kualitas otak manusia dan kemajuan kehidupan berbangsa,” lanjutnya.

 

Sementara itu, Rektor UAD Dr. Muchlas, M.T. menyambut baik atas torehan yang dicapai Suyadi dalam mendapatkan gelar tertinggi yakni guru besar. Ia menambahkan bahwa pencapaian yang telah didapatkan merupakan hal yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

 

“Kami atas nama Pimpinan UAD dan seluruh keluarga besar mengucapkan selamat kepada Prof. Dr. Suyadi, S.Pd.I., M.Pd.I. beserta keluarga atas kesuksesannya meraih jabatan akademik tertinggi sebagai dosen yakni guru besar. Saya kira guru besar yang diperoleh oleh ini melalui proses yang berliku dan panjang,” ujar Muchlas.

 

Adanya guru besar yang telah dikukuhkan, kata Muchlas, itu digunakan untuk mencapai audit eksternal kampus. Hal tersebut, kata dia, untuk mendukung proses dalam mengusulkan audit sesuai syarat kualifikasi doktor hingga guru besar.

 

“Pencapaian guru besar ini juga kita perlukan untuk mendukung proses-proses audit eksternal kita. Jadi, di dalam 9 kriteria yang selama ini kita gunakan untuk mengusulkan audit eksternal melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) maupun melalui akreditasi mandiri, itu masih memerlukan syarat-syarat kualifikasi doktor maupun guru besar,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, ia mengharapkan bahwa pencapaian guru besar yang telah diperoleh dapat memberikan kontribusi lebih. Hal tersebut agar Lembaga Pengembangan Studi Islam dapat lebih bermanfaat bagi Fakultas Agama Islam UAD.

 

“Kami berharap pencapaian guru besar ini dapat memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi pengembangan UAD khususnya Fakultas Agama Islam,” harap Muchlas. (*)

 

Wartawan: Dzikril Firmansyah

You might also like